5 Cerpen Horor yang Wajib Kamu Baca

Bagi kamu yang suka membaca cerita kali ini Ela akan merekomendasikan 5 cerpen horor yang menurut Ela seru untuk dibaca.

Horor adalah sesuatu yang menimbulkan perasaan ngeri atau takut yang amat sangat. Adegan horor tersebut bisa dikemas dalam berbagai wahana, lho. Baik dalam bentuk film, novel, maupun cerpen. Cerpen horor biasanya terdiri dari cerita dan adegan yang mencekam serta membuat takut para pembacanya.

Apakah kamu salah satu orang yang senang membaca cerpen horor? Jika iya, maka kamu perlu membaca 5 cerpen horor pilihan Ela ya.

Pamali

“Perempuan jangan duduk di depan pintu!”

“Jangan pulang malam-malam!”

“Jangan mandi magrib!”

“Jangan menyapu halaman malam!”

Begitulah berbagai macam pamali atau larangan yang dilontarkan ibu kepadaku. Apakah kau mempercayainya?

Sebetulnya aku tak percaya. Namun, saat makhluk aneh itu selalu mengikuti setelah pulang kerja. Mungkin aku mempercayainya.

Makhluk itu entah perempuan atau lelaki. Badannya kekar seperti lelaki, tapi rambutnya panjang seperti perempuan. Bajunya compang-camping penuh darah. Pertama kali aku bertemu dengannya ia membuatku kaget dengan kemunculannya di tengah jalan menghalangi laju motorku. Lalu ia terus mengikutiku bahkan sampai rumah.

Seminggu pertama, aku demam tinggi. Ibu sampai khawatir dengan apa yang terjadi. Ia memberikanku obat dokter pun tak mempan. Sampai akhirnya, ibu membawakan orang pintar ke rumah.

“Ada yang mengikuti anak ibu saat Si Neng pulang kerja. Saat ini masih di sini” ujar bapak-bapak tersebut.

Segera Ibu meminta bapak tersebut mengusirnya. Bapak itu pun membaca sesuatu, lalu seolah berpikir. Kurasakan tubuhku meregang di ambang sadar dan tidak sadar. Perlahan muncul satu bayangan, makhluk tersebut, ia berbicara kepadaku pelan.

“Aku merindukan adikku. Ia sepertimu.” Bayangan itu pun menghilang setelah ia mengucapkan kalimat tersebut. Badanku melemas dan tak sadarkan diri.

Darah yang Tersisa

5-cerpen-horor-shohibul-kahfi

Aku membalik dua potong roti tawar yang satu sisinya telah menjadi cokelat keemasan, kembali mengoles mentega dan menunggu sisi lainnya siap. Sambil menunggu, dengan telaten aku mencampur dua gelas jus dengan takaran yang tepat, setidaknya sampai kadar nutrisinya sesuai.

Aroma menggoda dari roti isi telur dan daging panggang telah siap di atas meja makan, kami berhadapan dan memulainya dengan merapalkan doa.

“Terima kasih untuk sarapan hari ini, kau luar biasa sayang.”

Aku mengulum senyum dengan malu, telah satu minggu kami tinggal satu atap dan pujiannya terasa semakin manis setiap harinya.

Jemarinya dengan terampil mengiris potongan roti isi agar sesuai dengan suapan untuk mulutnya, bibirnya berwarna merah merona kontras sekali dengan kulitnya yang telah putih pucat.

Ketika potongan berikutnya, ia terlihat agak kesulitan untuk memotongnya. Sepertinya, daging di sebelah kiri belum masak dengan sempurna.

“Sini kubantu untuk memotongnya.” Ia mengulas senyum tipisnya, senang sekali di pagi hari sudah diberi senyuman favoritku.

Aku berlalu di belakang tubuhnya, memotong dengan tipis lapisan roti isi tersebut. Dadaku berdegup semakin cepat ketika lengan kami bersentuhan. Wajahku juga berubah semerah apel.

“Eh, maaf aku memotongnya terlalu jauh.” Saus kemerahan mengalir cukup banyak saat kuangkat pisau makan tersebut, meninggalkan jemarinya untuk isian tambahan untuk roti lapisnya. Kulihat wajahnya, yang pucat pasi. Ia tak menyangka dengan apa yang ia lihat, lalu pingsan karena ketakutan.

Baca juga : Cerpen – Cinta Datang Terlambat

Perempuan yang Datang dari Kegelapan

Perempuan yang Datang dari kegelapan

Beberapa hari ini, ada satu hal yang mengganjal dan membuatku tak tenang barang sehari
pun. Saat sekeranjang buah apel yang ditaruh di halaman rumah minggu lalu. Awalnya
kupikir bukan itu penyebabnya, namun mimpi itu selalu datang setiap potongan apel tersebut kumakan. Mimpi sama yang membuatku meneteskan air mata ketika bangun di pagi hari.

Tentang jeritan misterius yang datang dari balai kota, suaranya redup begitu memilukan.
Suara permintaan tolong yang hadir di setiap malam saat bulan penuh berada tepat di atas
langit. Semakin banyak kumakan apel itu, potongan-potongan puzzle itu terasa semakin
lengkap, dan membuatku yakin untuk menemukan jawaban dari mimpi-mimpi ini.

Tepat tengah malam, atap dan jalanan yang sepi disinari oleh sinar rembulan. Aku
mengendap, memastikan diriku tetap tak terlihat. Ada satu peraturan untuk penduduk di sini agar tak keluar di malam hari, tak ada alasan yang dapat kutemui tapi tak ada satu pun warga yang melanggarnya.

Aku berdiri di hadapan balai kota, sebelumnya aku tak pernah sadar jika gedung putih yang berdiri megah ini akan terlihat semencekam ini, pepohonan yang merunduk di sisi kanan dan kiri bergerak dengan perlahan. Lalu, tiang-tiang yang menyangga gedung terlihat seputih tulang. Patung yang biasanya dijadikan tempat bermain anak-anak terlihat begitu menyeramkan bahkan untuk orang dewasa. Aku meneguk ludah meyakinkan diriku untuk tetap berlalu.

Suara tangis yang sama mulai mengaung dengan samar, aku meniti setiap jalanan dengan
berat. Kakiku gemetar ketika suara itu terdengar semakin nyata. Terdapat sebuah gubuk tepat di belakang gedung balai kota, tak terlihat begitu rahasia namun ini pertama kalinya bagiku tahu kalau balai kota memiliki gubuk seperti ini. Tangis tersebut mengalun dari gubuk di hadapanku, aku membuka pintu tersebut dengan keringat yang telah membanjiri pelipis.

“Kau tahu terlalu banyak, tinggallah selamanya di sini.” ujar perempuan dengan tubuh penuh luka itu.

Debu

Debu

Setelah dibukanya masa pembatasan sosial berskala besar, aku dan temanku memutuskan untuk pergi wisata, dengan Bandung menjadi destinasi wisata kami. Kudengar di sana sudah mulai ramai, dan perjalanan luar kota sudah lebih longgar. Kami memutuskan untuk pergi dengan kereta, karena tidak ada satu pun dari kami bertiga yang dapat membawa kendaraan.

Kebetulan kami mendapat jadwal pemberangkatan kereta pukul dua tiga puluh pagi, sengaja kami pilih yang paling pagi agar dapat menikmati tanah Bandung lebih lama. Aku dan Rendi berangkat menuju stasiun bersama, kebetulan rumah kami berdekatan. Hanya Ningsih yang rumahnya agak jauh di tepi kota Jakarta.

Tak pernah aku datang ke stasiun sepagi ini, apalagi dengan menggendong tas besar. Stasiun yang biasanya ramai, terasa lebih dingin dari biasanya. Suara mikrofon dari penunggu loket begitu menggema sampai rasanya seluruh penghuni stasiun akan mendengar, itu pun kalau ada. Ningsih datang di menit-menit terakhir keberangkatan,

“Halo teman-teman, maaf ya telat”

“Iya memang kamu Ratu Telat dari dulu!” tegur Rendi bercanda

“Yaudah, yuk, kita masuk gerbong!” ajakku.

Akhirnya perjalanan kami dapat berlanjut, gerbong jauh lebih sepi dibanding stasiun tadi, hanya ada seorang yang duduk dekat pintu toilet. Kami menikmati bekal yang disiapkan oleh Ibunya Ningsih, pas sekali sebelum tidur makan dulu. Baru ingin menyuapkan potongan ayam tepung, kereta berhenti dengan kontan, tubuh kami terantuk sandaran kursi di depan kami. Lampu-lampu kereta mati dengan perlahan, refleks kami berpegangan tangan karena terkejut.

Aku mengalihkan pandanganku menuju Ningsih, lengannya sedikit basah dan dingin, mungkin karena panik. Namun, asap putih mulai menyeruak dari gerbong belakang, jendela kereta mulai dipenuhi embun yang dingin, persis seperti es. Rendi sudah menelungkupkan kepalanya di balik jaket yang kukenakan.

Lengan yang awalnya basah kini semakin dingin dan nyaris seperti membeku, aku kembali menengok untuk memastikan keadaan Ningsih. Matanya menghitam terlihat retak-retak seperti bekas luka bakar, aku berusaha untuk melepaskan lengan tersebut namun tak berhasil. Kepalanya menengok dengan kaku, terdengar bunyi tulang yang patah di dalamnya. Aku tak berani untuk membuka mata dan merapatkan tubuhku dengan Rendi. Lalu, suara derap langkah terdengar begitu cepat ke arah kami, begitu memburu diikuti kabut lebat dan udara dingin yang memekik.

Sampai semuanya menghilang seperti debu, hanya kami yang merunduk ketakutan di tengah rel kereta yang bergetar.

Qorin

“Kemarin gue lihat lo di ruang kelas sendirian, Lan, ngapain lu, yang lain udah pada bubar?” Tanya Rangga usai solat magrib dan hendak kembali ke ruang BEM.

“Emang iya? Bukannya lo tegur” Lana tidak mengingatnya, apakah memang iya aku sendirian di kelas? Ah, mungkin saat aku mengerjakan laporan. Gumamnya dalam hati.

“Lo sibuk gitu” Percakapan Lana dengan Rian berakhir sampai di situ, karena Rian mendadak perlu menemui seseorang.

Setelah sampai di ruang BEM, Lana menemui teman-temannya yang lain. Ada Jaka, Riana, dan Wana. Mereka sedang menyusun proposal acara yang mau diadakan tiga bulan lagi. Mendadak percakapan mereka berganti topik.

“Lan, dua hari yang lalu lo  dandanan gak seperti biasanya deh. Pake gamis serba putih gitu, terus gue panggil gak nyaut.” Ujar Jaka.

“Bener, Ran. Padahal biasanya lo kalo ke kampus kan stylish banget tuh. Kita yang tadinya mau solat magrib, sedikit telat gara-gara manggil lo doang” tambah Riana

“Hah?” Lana terkejut “Gue gak ke kampus dua hari yang lalu.”

“Lah terus itu siapa dong? Sumpah muka, badan, mirip lo banget” Jaka bertanya keheranan

“Ih jadi takut gue. Lo gak bercanda, kan?” Riana menimpali percakapan.

“Ya enggaklah, Ri. Ngapain juga.”

Mereka saling pandang memandang dan keheranan. Terlebih lagi Lana yang berusaha mencerna terhadap apa yang telah terjadi. Sementara itu, tanpa mereka ketahui, sosok yang mirip Lana memandangi mereka dari luar jendela. Meneyeringai dan tertawa pelan, tak ada yang mengetahuinya, kecuali Lana yang menengok ke arah jendela.

Baca juga: Cerpen Sweet Time

Begitulah 5 cerpen horor yang bisa membuatmu merinding. Semoga dapat membantumu.

Share
Alexia Milosevic

Alexia Milosevic

Kenal Aku?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke atas