AMHI Part Dua

 

Lemas. Seluruh tubuh ini seakan mati rasa, bisikan setan menggebu-gebu di telingaku. Gugurkan saja! Aku tak mungkin bisa mengakhiri kehidupan yang kini ada di perutku, sungguh Aku sangat ingin melihat Anak ini nantinya tumbuh menjadi Anak yang baik.

Entahlah!

Mungkinkah aku membesarkannya sendirian atau bersama Ayah dari Anakku ini. Aku sadar akan perbuatanku ini, aku hanya berharap Dani bersedia membesarkan Anak ini nantinya bersamaku, menjadi sosok Ayah untuk Anaknya ini. Sungguh aku sangat ingin melihatnya tertawa, bermain bersama di taman ini.

Sesekali aku tersenyum membayangan semua itu. Aku tak tahu itu. Bayangan? apakah hanya sebatas bayangan saja? Semoga saja ini akan menjadi indah kelak.

Terlamun aku di sini dengan senyumaan berderai air mata.

Dani, sungguh kau pria yang aku dambakan, kau begitu baik selama ini padaku, mengisi kekosangan jiwa ini. Mungkin, jika aku tak mengenalmu. Aku akan selalu terbuai dalam kesendirian yang menyiksaku ini.

Aaarggh! Sungguh, Aku tak mengerti akan persaanku sendiri. Tapi, mantra apa yang kau ucapkan hingga membuatku tergila-gila seperti ini.

Berdiri Dani di hadapanku.“Ayo! Aku akan mengantarkanmu pulang. Sudah! hentikan air matamu itu, sayang. Sungguh itu akan membuatmu menyiksa dirimu sendiri. Aku akan membicarakan soal Anakku yang ada dalam rahimmu itu pada keluargaku malam ini.”

Perkataan Dani ini membuatku sedikit lega, semoga saja ia mendapat restu dari kedua orangtuanya untuk meminangku.

Dani meraih tanganku yang mengepal bertumpu diatas paha, perlahan ia menarik tanganku yang mati rasa untuk mengajak berdiri, pulang kerumah. Yang aku rasa kala ini hanya air mata yang tertinggal di bangku taman itu.

***

Hari sudah semakin larut. Seharian aku bersamanya di taman itu.

Diam.

Tangis.

Air mata.

Membuat waktu berlalu begitu cepat. Yang aku ingat, hanyalah ucapan-ucapan yang menguatkanku dari pria yang begitu aku sayangi.

Berjalan terlunglai layu tubuh ini, meninggalkan Dani menjauh pergi dari rumahku. Sayup-sayup mata ini memandanginya menjauh bersama kuda besinnya itu, hanya senyuman yang ia berikan padaku.

Semangat! kita pasti akan bahagia, sayang. Seperti itulah kata yang tertangkap dalam naluri hati ini di balik senyumnya itu.

Namun, itu seakan tak merubah apapun dalam diriku. Masih terasa hampa.

Kubalikan tubuh ini, berjalan dengan menatap setiap langkahku, menapaki ubin putih di teras rumah.

Begitu berat. Sangat berat, otak ini seakan tak mampu menggerakan tangan yang hanya sekedar untuk mengetuk pintu rumahku berwarna abu-abu ini.

Beberapa saat sebelum tangan ini berhasil mengetuk pintu rumah. Tiba-tiba, seseorang membuka pintu dari dalam.

“Asstaagaa! Kau mengejutkanku saja. Darimana saja Kau ini, hari sudah mulai petang, Kau baru saja pulang. Main terussss! ya. Bagus!”

Rentetan kata-kata dengan nada tinggi menyerang pendengaranku ini. Aku pun masih terdiam tertunduk menatapi jari jemari kakiku tanpa sedikit aku meliriknya.

“Minggir!!! jangan menghalangi jalanku. Aku akan pergi malam ini.”





Dia hempaskan tubuhku yang mungil tak berdaya ini dari hadapannya, tersungkur aku di buat olehnya. Setengah mati aku mencoba untuk berdiri sembari memegang perut ini, berharap Kehidupan di dalam perutku ini tak merasakan apa yang aku rasakan.

Kalian tahu siapa orang yang barusan keluar dari rumahku ini?

Ya, Dia adalah kakakku.

Bukan. Tepatnya Dia adalah kakak tiriku. Aku tak tahu apa yang membuatnya sangat membenciku. Jika Dia bawang merah dalam cerita dongeng, tentu di sini aku yang menjadi bawang putih. Namun, perbedaanya aku tak memiliki Peri bersayap yang dapat mengabulkan permintaanku.

Tertatih. Berjalan terhuyung-huyung langkahku. Betapa kagetnya melihat kondisi rumahku yang sangat berantakan ini.

Botol minuman keras berhamburan di meja, kartu mahyong dan kulit kacang berserakan di lantai, serta bau alkohol yang menyakitkan penciumanku.

Sementara rumah dalam kondisi sepi, sepertinya Ayahku belum pulang dari kerjanya di kebun.

“Aku harus segera membereskan ini. Bisa marah besar nantinya kalau Ayah tahu kakak mabuk-mabukkan dan berjudi lagi hari ini,” ucapku dalam hati dengan tangan kiri yang masih berada di perutku, sementara tanganku yang lain memegang dinding rumah sebagai tumpuanku untuk tetap bisa berjalan. Lemas sekali tubuh ini, seharian aku tak makan apa-apa, meskipun Dani membelikan makanan untukku . Tapi, hanya sedikit sekali aku memakannya.

Tak seperti biasanya, yang hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja untuk membersihkan rumah. Kali ini aku menghabiskan beberapa jam untuk membersihkan rumah, itu membuatku sangat lapar.

Berjalan aku menuju dapur rumah, mencari sesuatu yang bisa di makan. Mungkin, Dia juga merasakan kelaparan setelah menjalani hari ini yang begitu berat. Tersenyum aku memandangi perutku yang tak lupa mengelus-elusnya pula.

Saatku buka tudung nasi yang ada di meja, betapa terkejutnya aku.

“Ya, ampun. Aku sampai-sampai bisa kelupaan untuk masak hari ini.” Mungkin karena aku lupa untuk menyiapkan hidangan hari ini, sehingga itu membuat kakakku marah tadi.

“Aku harus menyiapkan hidangan malam ini. Kasihan jika Ayah nanti pulang, betapa lelahnya ia dari kerjanya seharian, sehingga membutuhkan sesuatu untuk mengisi energinya kembali.”

Aku berjalan dengan sisa tenaga yang ada menuju sumur di belakang rumahku untuk mencuci beras dan membersihkan sayuran untuk di jadikan sajian malam ini.

“Malam ini, Aku mau masak masakan kesukaan Ayah, sayur kangkung sambal terasi.” Senyum-senyum sendirian aku mencuci sayuran mentah ini.

Berkumandang suara Adzan di masjid-masjid, silau keemasan perlahan menghilang, awan petir berdatangan menyambut malam, seperti akan ada hujan badai malam ini. Buru-buru aku membuat api untuk menanak nasi di dapur. Dengan kayu bakar seadanya ini, aku berharap cukup untuk membuat beras berubah menjadi nasi.

Benar saja, beberapa saat kemudian ribuan air hujan menyerang atap tumahku sehingga membuat suara bising yang disertai dengan suara sambaran petir yang memecah keheningan saat ini.

Rumahku beratapkan Seng yang bergelombang, tanpa adanya pelapon yang membuat tiang-tiang tulang penyangga atap dengan jelas dapat di lihat.

Terduduk aku menatapi api yang menyala di tungku, menjaganya agar tidak mati tertiup angin yang masuk dari sela-sela dinding papan dapurku ini.

“Hujan. Semoga engkau cepat reda, Ayah sekarang masih belum sampai rumah. Ku harap Ayah berteduh untuk menjaga diri dari serangan hujan badai ini,” ucapku sembari menatap api yang masih aku jaga untuk tetap menyala.

Assalamualaikum

Terdengar seperti suara orang mengucapkan salam di depan rumahku, beranjak aku menuju ruang tamu untuk melihat siapa orang yang bertamu di tengah hujan badai ini.

“Wa’alaikumsallam,” jawabku sembari membukakan pintu.

Betapa terkejutnya aku, melihat seseorang dengan pakaian lusuh yang basah kuyup berdiri menyimpulkan tangannya. Seakan merasakan dingin yang teramat sangat dari hujan badai ini.

Warna baju putihnya itu tertutupi oleh noda tanah-tanah merah yang berlumuran.

To be continued …

Istriku Males Lipet Baju – Cerpen

Share
Shohibul Kahfi

Shohibul Kahfi

Penulis pemula dengan imajinasi seadanya.

2 komentar di “AMHI Part Dua

  1. Ping-balik: AMHI - Sohhibulkahfi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke atas