AMHI Part Empat

“Tadi, Mamanya Bram datang ke kebun tempat ayah kerja,” ucap ayah nampak serius raut wajahnya.

Batinku. Ada apa mama datang menemui ayah?

Bukankah mama sekarang telah bahagia bersama kekasih gelapnya. Aku sungguh tak mengerti apa yang di pikirkan wanita itu. Bagaimana bisa dia datang menemui ayah tanpa sedikit pun rasa bersalah.

Dasar wanita murahan.

“Kenapa mama menemui ayah? Ayah, sudah lupa apa yang telah terjadi sepuluh tahun lalu? A … Aku—”­­­­

“Sudahlah! Nak. Ayah pun sudah melupakan itu …, ayah sudah memafkannya sebelum mamamu meminta maaf,” jelas ayah.

Terdiam. Seketika aku terbayang semua akan cerita sepuluh tahun lalu.

Flashback on

“Sejak kapan kau lakukan ini di belakangku?! Aku mati-matian bekerja demi kamu dan anak-anak kita. Tapi, kau …? dengan sadarnya bermain di belakangku. Tak hinanya dirimu melebihi dari seorang pelacur malam.” Suara lantang lelaki penuh amarah terdengar jelas dari kamarku.

“Mas, kamu sadar …?! Apakah pantas kamu berbicara seperti ini?! Memenuhi kebutuhan seorang istri saja kamu tidak becus! Sudah tiga tahun aku menahan semua ini. Hidup seperti ini. Makan seadanya, Aku juga mau mas, di belikan gelang emas! ”

Malam itu adalah malam di mana aku terakhir kalinya melihat mama.

Kala itu usiaku masih sepuluh tahun. Jelas terdengar oleh sepasang telinga ini pertikaian antara mama dan ayah. Membangunkanku dari tidur malam, seperti sudah terlalu larut malam kala itu. Di rumahku yang berdindingkan papan tidak ada jam dinding. Karena, jika malam sudah larut malam lampu ruang tamu biasanya ayah matikan, menggantikan penerangan ruangan hanya dengan lampu petromaks saja.

Aku menyaksikan pertikaian hebat itu, mengintip dari celah-celah lubang pintu kamarku. Bergetar seluruh tubuh ini ketakutan, aku terus memberanikan diri menyaksikan pertengkaran ayah dan mama. Sementara kakakku, tertidur pulas di ranjangnya. Aku dan kakak satu kamar kala itu.

Samar-samar terlihat dari celah lubang pintu kamarku mereka berdiri saling berhadapan. Bayang-bayang gerak tubuh mereka yang terpantulkan cahaya lampu petromaks itu, seolah menggambarkan betapa seriusnya pertikaian di antara mereka.

Plaaakkk!!!

Suara nyaring terdengar jelas, dengan di iringi bayangan tangan yang sepertinya itu mengarah ke wajah mama. Sepertinya itu adalah sebuah tamparan yang ayah hadiahkan untuk mama. Kali pertamnya aku melihat ayahku begitu marah hingga ia berani menggunakan kekerasan.

Lantas, apa yang membuat ayah begitu marah kepada mama?

“Jaga ucapanmu itu! Kau hanya memikirkan harta harta dan harta. Kau abaikan kasih sayangmu sebagai seorang ibu bagi anak-anak kita! Kau pun campakkan aku. Pulang selalu larut malam, hingga kini akhirnya terbongkar semua kebusukanmu di belakangku,” geram ayah.

“Jawab aku … sudah berapa lama kau berbuat seperti ini di belakangku …?” tanya ayah menunjuk dengan jari telunjuknya tepat di depan wajah mama.

“Aku … A-aku, minta cerai mas! Aku gak kuat hidup seperti ini terus sama kamu.” Pergi. Langkah kaki terdengar jelas menjauh pergi.

Suara keras gebrakan pintu menutup, mengiringi kepergiannya meninggalkan rumah ini dan meninggalkan aku, kakakku juga ayahku. Suara mobil di depan rumah perlahan menjauh pergi.

Sepertinya. Mama pergi menaiki mobil itu.

Bayang ayah yang terlihat di dinding kala itu, menggambarkan kesedihan yang mendalam, terduduk diam, kedua tangannya menutup wajah.

Flashback off

Saat itu usiaku masih terlalu dini untuk melihat yang seharusnya tak ku saksikan.

Perceraian.

Aku tak tahu sedikitpun tentang itu. Yang aku tahu kala itu mama pergi bekerja ke kota untuk mencari pekerjaan. Hanya itu yang ayah ceritakan.

Beranjak waktu, kini ayah mengatakan semua kebenaran itu saat ayah rasa usiaku telah cukup untuk mengetahuinya.

Kerap kali, mama memberikan tugas rumah yang seharusnya mama kerjakan padaku di usia kecilku kala itu.

Makian.

Cacian.

Bukanlah hal yang baru bagiku di masa kecil. Terkadang aku harus bangun pagi-pagi buta untuk menyiapkan sarapan pagi sebelum aku berangkat ke sekolah.

Ayah?

Ya, ayah tidak mengetahui semua perbuatan mama padaku hingga saat ayah mengetahuinya dengan sendirinya. Aku tak mau mengadu pada ayah, aku takut.

Seringkali ayah berangkat kerja di pagi buta, saat semua masih tertidur lelap. Ayah sudah pergi meninggalkan rumah untuk pergi bekerja di kebun.

Jarak yang di tempuh dari rumahku untuk ke kebun tempat ayah bekerja kurang lebih satu jam setengah.

Masa kecilku yang bahagia, keceriaanku, di renggut oleh mama. Aku tahu mama bukanlah dara dagingku. Tapi, setidaknya jangan memperlakukan aku seperti babu.

Aku juga butuh kasih sayang.

Aku butuh pelukan.

Belum lagi di tambah kakakku yang kelihatannya tidak menyukaiku juga, sampai hinga saat ini.

“Sudah, Ayah sekarang istirahat saja dulu, jangan terlalu banyak pikian. Tidak baik untuk kesehatan. Ayah makan dulu ya! Sudah Amhi siapkan makanan kesukaan Ayah.” Mencoba untuk melupakan masa lalu, aku pun sedikit menenangkan ayah.

“Kakak pulang besok pagi. Jangan begadang menunggu kakak pulang malam ini ya. Amhi mau istirahat dulu.” Perlahan aku beranjak meninggalkan ayah duduk sendiri.

Sambil berjalan menuju kamarku, hati ini terasa sangat sesak.

“Iya, bawel,” ejek ayah mengiringi langkah kakiku menuju ke kamar.

Hanya senyumanku yang membalas perkataan ayah itu, menolehnya sambil berjalan tanpa membalikan tubuhku.

Ku urungkan niatku untuk pergi kekamar, berjalan menuju sumur di belakang rumah, untukku mengambil air wudhu. Aku lupa belum melaksanakan ibadahku yang selama ini ayah ajarkan padaku sedari kecil.

Hujan perlahan menjauh pergi, meninggalkan bekas di bumi merahku ini. Namun, tidak dengan badai angin. Tetap menerpa bumi gersangku ini, tanpa jejak, tanpa wujud yang dapat dilihat.

Bumi di tempatku berpijak kini begitu menyedihkan. Jalan berwarna merah, kunang-kunang menghilang dari pandang, pergi meninggalkan rumah yang kini tinggal kenangan.

Kampung menyedihkan dengan sejuta kenangan.

Sajadah membentang di ubin kamar ini, begitu tenang dan tentram hati ini duduk di atasnya. Berkali-kali aku bersyair dalam doa. Memohon ampun atas semua kesalahan yang pernah aku perbuat.

Ini adalah episode terburuk dalam hidupku, memohon pada Rab-ku jalan terbaik untuk semua masalah yang kini menerpa.

Ya Allah ya Rab-ku, sungguh engkau maha mengetahui isi hati ini, sepertinya hamba sungguh tak sanggup lagi memikul cobaan ini.

Hatiku rapuh.

Imanku layu.

Begitu mudahnya terbuai rayuan setan yang terkutuk. Bangunkan hamba di sepertiga malam jika memang hamba bisa menjalani jalan takdirku ini.

Namun …

Hamba ikhlas bila harus meninggalkan dunia yang fanah ini.

Mungkin, itu hanya sebagian kecil dari bait doaku malam ini, sungguh tak cukup waktu untuk aku merangkai kata di tulisanku ini.

Cerita ini masih belumlah dimulai. Perjalanan kehidupanku ini barulah akan dimulai, terima kasih telah mendengarkan sedikit celotehanku ini.

 ~Amhi~

Share
Shohibul Kahfi

Shohibul Kahfi

Penulis pemula dengan imajinasi seadanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke atas