AMHI Part Satu

Bulan, Andai saja Kau bisa memberikan sinarmu sedikit pada hatiku. Mungkin aku akan menyinari gelap hati orang-orang yang bernasib sepertiku.

Bernasib. Sepertinya bukan kata itu yang cocok untuk mendefinisikan semua ini, kebodohan lah yang lebih pantas untuk cerita ini.

Amhi-all-part-1

Setiap malam, aku hanya bisa menatapmu dengan penuh rasa penyesalan. Kini engkau menjadi satu-satunya penenang hati ini. Sama seperti kemarin, aku masih di sini terduduk layu menatap cahyamu, Kau sinari gelap malam ini bersama bintang. Tapi, sinarmu tak dapat menyentuh hati ini.

Andai saja kau bisa membawaku ke masa lalu sedetik saja, mungkin aku akan merubah segalanya, kebodohan yang terus terulang dalam hidupku. Duduk di taman ini sendiri, bukan menunggu seseorang tuk menghampiri, bukan pula menanti harapan yang pasti. Karena, asa tak bisa lagi ku rasa.

Malam ini usiaku tepat dua puluh empat tahun. Tak ada nyanyian kebahagian, tak ada seberkas sinar lilin kecil yang mengejutkan, dan tak ada suara yang bergeming mengucapkan selamat ulang tahun untukku.

Rasanya telah lupa akan aroma kue ulang tahun, terakhir kali saat aku masih duduk di bangku sekolah SMA. Namun, itu adalah awal perjalanan kepedihan ini.

Angin malam yang dingin sedikit tak ku rasa. Sesekali aku tundukan pandangan, menatap garis kehidupan di telapak tangan ini.

Oh Tuhan, kapan aku bisa terlepas dari bayang kebodohanku ini? sudah cukup perih yang aku tusukan dalam hati ini.

Berderai air mata membasahi pipi, mengalir deras mendarat di telapak tangan. Untuk kesekian kalinya aku menangis lagi. Rasanya aku sudah melakukan ini di malam kemarin. Namun, tak ada secerca harapan. Hanya kehampaan dan kekosongan hati ini.

Di sini. Tempat dimana terakhir kalinya aku melihat dia, aku sungguh mencintainya.

Aku harus pulang! Tapi, pulang kemana? Ayahku membuangku karena ia mungkin merasa malu.

Bukan.

Aku yang gila.

Seharusnya aku yang malu. Mungkin, karena Ayah merasa kecewa padaku hingga Ayah tak mau lagi melihatku.

Ayah, maafkan Amhi anakmu yang tak tahu diri ini. Sungguh aku sangat ingin memelukmu sekali lagi Ayah.

Saat aku sedang meratapi masa lalu. Terdengar suara yang tak asing memanggilku dari kejauhan.

Amhi …!

Seorang lelaki memakai baju putih dengan dasi yang menjuntai, lengkap dengan membawa tas kerjanya. Nampak lelaki itu seperti seorang pegawai kantoran. Berjalan panik lelaki itu menghampiriku yang sedang sendiri.

“Aku mencarimu kemana-mana. Ayo! kita pulang, malam sudah semakin larut,” ujar lelaki itu dengan membungkukkan badannya yang kekar itu tepat di depanku dan memegang tanganku dengan erat, menuntunku untuk berjalan mengikutinya.

Nampak sebuah mobil mewah di sudut jalan seberang taman. Toyota Alphard berwarna hitam itu dan seseorang yang menunggu kedatanganku, sepertinya dia adalah sopir pribadi lelaki yang saat ini sedang menuntunku untuk masuk kedalam mobil itu.

Tak ada sedikitpun kata terucap dari bibirku, aku hanya diam dengan tatapan kosong dan terduduk di bangku penumpang bersama lelaki yang menuntunku. Masih dengan menggenggam tanganku, sesekali ia melirik dengan sejuta pertanyaan di pandangannya.

“Aku memang tidak bisa menghapus masa lalumu. Namun, izinkan aku menunjukan betapa indahnya masa depanmu.” Sebuah kata-kata yang terdengar jelas melesat menembus relung hati ini. Suara yang begitu menyejukkan nan bijak, suara lelaki itu membuatku tanpa sadar menoleh kearahnya.

Sorot matanya yang tulus, sepertinya masih belum bisa melukiskan warna di hati kecilku. Tak terucap kata di bibir ini, sebuah senyuman manis ku lukiskan untuknya.

Ku kembalikan pandangan ini, menatap cahaya-cahaya lampu kota menembus kaca mobil ini, semua nampak seperti televisi masa lalu, hanya hitam dan putih. Rintik hujan mengetuk kaca mobil, seolah mengajakku untuk menari bersamanya.

***

“Mas, Aku mau kamu datang bertemu Ayah di rumah untuk membicarakan tentang hal ini.” ucap ku lirih memohon pada Pria berkulit sawo matang yang sedang duduk di sebelahku. Ku genggam erat lengan nya yang kekar itu, Aku tak mau ia beranjak pergi meninggalkanku.

“Gak bisa Mhi! Aku gak bisa untuk melanjutkan hubungan ini  ke pernikahan. Kamu sudah tau apa yang terjadi, kan? Kita gak akan bisa bersama.” Tegas ucap Pria itu tanpa sedikit pun menolehku.

Aku sungguh tak bisa mengerti dengan semua ini, janji-janji manis yang terucap dari mulutnya kala itu, hanyalah sebuah sampah yang ia keluarkan untuk membuatku jatuh cinta padanya. Bagaimana mungkin sampah itu dapat melelehkan hatiku. Hingga sejauh ini aku berkorban untuknya.

“Mas, Aku mohon …, Aku membutuhkanmu, mas.” Semakin erat ku cengkram lengannya, semakin memohon pula aku padanya.

“Kamu ingat hari ini hari apa, mas?” tanyaku padanya dengan suara lirih.

“Ya, Aku tahu!” Tegas ucapan pria itu yang masih membuang pandangannya dariku.

Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke dua puluh, saat semua orang memohon di panjangkan umurnya, namun tidak denganku. Aku memohon agar Tuhan mengambil nyawaku. Tak tahu harus bagaimana aku menjalani kehidupan nantinya di masa depan. Semua harapan dan cita-citaku kini telah pupus.

Tiga tahun kita menjalin asmara, suka duka telah kita lewati bersama. Tanpa memperdulikan perbedaan di antara kita. Sungguh aku sangat mencintai Dani. Pria tampan nan gagah itu membuatku jatuh cinta saat pertama kali aku memandangnya.

Usianya jauh lebih tua tiga tahun dariku, nampak dewasa Dani di mataku. Ia selalu bisa memberikan tawa di setiap hari-hariku. Namun, kali ini berbeda.

Untuk pertama kalinya ia memberikan tangis padaku, mengucur deras air mata ini membasahi pipi. Memohon agar Dia menikahiku.

Di gelapkan oleh cinta, kesadaran ku sirna, akal sehatku mulai tak ada.

Kini Aku memetik buah dari kegilaanku beberapa waktu lalu bersamanya. Yang seharusnya tak kulakukan sebelum ikatan suci menyatukan kita. Tubuhku. Aku serahkan pada Dani seutuhnya kala itu.

Nikmat. Memang sungguh nikmat. Namun pikirku tak mampu melihat esok, apa yang akan terjadi di masa yang akan datang akibat perbuatanku ini. Seseringkali kita bercinta layaknya suami istri yang sah. Aku sungguh menikmati itu. Sungguh.

Dan akhirnya, sebuah kehidupan kini bersarang di perutku.

“Kamu berjanji akan memenuhi permintaanku saat ulang tahunku tiba kan, mas?” ucapku lirih memandangi kehidupan yang ada di dalam perutku ini, sesekali aku mengelus-elus perutku.

“Aku minta padamu untuk bertanggung jawab atas kegilaan kita selama ini mas.” Terisakku memohon padanya.

“Iya, Aku mau bertanggung jawab asalkan kamu mau mengikuti permintaanku,” ucap Dani dengan lembut mulai mengarahkan pandangannya itu ke arahku.

“Soal itu …,” Aku hanya terdiam dalam tangis, tak mampu berkata apa-apa lagi.

“Seperti yang sebelumnya kita bahas, keluargaku akan merestui hubungan kita bila kamu mau mengikuti ajaran Agama yang di anut keluargaku turun temurun.,” ujar Dani dengan tegasnya menatap tajam diriku yang sedang terisak tangis.

Dani dan aku memiliki Agama yang berbeda. Ayahku sudah mengetahui hubunganku dan Dani. Namun, Aku belum memberitahu soal janin yang ada dalam perutku ini.

Hubungan kita memanglah mendapatkan restu dari keluarga kami masing-masing. Namun, dengan syarat yang harus aku pilih, jika aku dan Dani ingin melangkah ke pernikahan.

Aku ikut Agamanya, atau Dani ikut Agamaku. Ayahku ingin Dani agar ikut masuk dalam ajaran Agamaku. Sedangkan keluarga Dani menyuruhku untuk ikut Agama mereka.

Ayahku tidak setuju jika aku keluar dari Agamaku, begitu juga dengan keluarga Dani.

“Dengarkan aku, Amhi. Aku sangat mencintaimu. Aku juga sangat ingin menjadikanmu istriku. Tapi, di sisi lain. Aku tak bisa menentang keputusan keluargaku, jika kamu tak mengikuti apa perkataan mereka,” ucap Dani seraya menghapus air mata yang mengalir deras di pipiku.

Terdiam. Hanya diam yang bisa aku lakukan kala ini dan terus membiarkan air mata ini mengalir deras. Apa yang harus aku katakan pada Ayahku nanti. Habislah aku. Sungguh tak sanggup aku mengatakan kebodohan yang telah aku perbuat ini.

To be continued ….

Part selanjutnya ….

Share
  • 1
    Share
Shohibul Kahfi

Shohibul Kahfi

Penulis pemula dengan imajinasi seadanya.

Satu komentar di “AMHI Part Satu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke atas