AMHI Part Tiga

Hujan badai malam ini semakin deras saja, cahaya kilat sesekali menerangi tubuh pria paruh baya yang berdiri di depanku, tangannya seperti membawa sesuatu yang terbungkuskan kresek hitam. Ya, dia adalah ayahku. Sungguh aku tak kuasa melihat keadaan pria tangguh di depanku ini.

“Ya, ampun. Kenapa ayah pulang hujan-hujanan begini? kenapa gak nunggu hujan reda dulu baru pulang ke rumah? kalau sakit nanti bagaimana?” Rentetan ucap kegelisahanku pada ayah, sembari berjalan menuntun ayah untuk masuk kerumah.

“Sudah. Jangan terlalu khawatir sama ayah. Ayah baik-baik saja kok.” Duduk ayah di kursi bambu ruang tamu. Menatapku senyum. “Kamu itu mirip sekali dengan Ibumu,” ucap ayah menggodaku. Dengan lantangnya ayah mengatakan bahwa dia ‘baik-baik saja’ padahal, jelas kondisi ayah saat ini tak menggambarkan apa yang ia ucapkan.

“Tunggu sebentar, Amhi ambilkan handuk,” tuturku dan berjalan cepat menuju kamar ayah, tak lupa pula aku siapkan sepasang pakaian dan switer hangat untuk ayah.

Ku letakan sepasang baju dan switer itu di atas meja, tepat di samping kresek hitam yang ayah bawa pulang.

“Ini pakaian ayah, cepat ganti pakaiannya. Amhi buatin teh hangat dulu.”

Pikirku, mungkin hanya segelas teh hangat ini yang akan mampu menghilangkan rasa lelahnya setelah seharian ia mencari nafkah untuk anak-anaknya. Ku racik secangkir teh hangat dengan takaran gula pasir satu sendok makan, warna teh yang bening keemasan dan serta serbuk-serbuk daun teh yang ada di dalam mug ini mempunyai ceritanya sendiri.

Mungkin, hanya ini yang dapat aku lakukan untuk ayah setelah syair-syair do’a yang ku panjatkan untuknya dan ibu di setiap sujudku.

Ku suguhkan mug bercorakkan warna hijau putih yang berisikan teh hangat untuk ayah di meja, yang saat itu ayah telah selesai mengganti pakaian basahnya itu. “Ini teh hangat sepsial buat ayahku sayang.” Senyumku untuk ayah.

“Terima kasih, Mhi,” ucap ayah dengan membuka bungkusan plastik berwarna hitam yang ia bawa pulang bersamanya. “Tadi, ayah pulang kerja mampir sebentar di tempatnya pakde Yanto. Ayah bawakan sebungkus martabak isi strawberry spesial kesukaan kamu.”

Pakde Yanto, ia adalah seorang penjual martabak yang ada di kampung ini. Entah apa yang membuatku begitu jatuh cinta pada makanan ini. Padahal, untuk soal rasa sama seperti martabak pada umumnya dan tidak ada yang terlalu spesial. Ya, ini spesial bagiku karena yang membelinya adalah seseorang yang sangat aku sayangi seumur hidupku ini.

“Ya ampun, Ayah. Sempat-sempatnya memikirkanku,” tuturku. Sejenak aku terdiam hening menatap ayahku yang kala ini sedang menyeruput teh hangatnya.

Hati kecil ini sungguh tak kuasa menahan kesedihan. Begitu tulus hatinya berjuang selama ini untuk anak-anak dan istrinya. Legam kulitnya sebuah lukisan masa lalu perjuangannya untuk keluarga ini. Helai rambutnya yang mulai rontok dan memutih, kerutan kulit berirama melukis wajahnya yang nampak tak lagi gagah. Seolah berkata.

Waktunya untuk istirahat.

“Dulu, waktu kamu masih di dalam rahim Ibumu. Dia suka sekali untuk di bawakan martabak setiap kali ayah pulang dari kerja,” lirih ayah mengatakan itu, betapa pilunya hati ini mendengar ayah mengatakan itu, dengan sesekali menyeruput teh hangatnya menatap lurus ke arah foto Ibu yang terpajang di lemari.

Seketika. Ada seperti sesuatu yang menusuk relung hati ini. Hujan semakin deras, suara bising rintikan hujan di atap rumah semakin menjadi-jadi, kilauan kilat melukis bayang di tirai jendela.





 

Namun.

Sepertinya suara-suara bising itu lenyap sekejap dari pendengaranku. Terbayang-bayang jelas dosa-dosa kegilaanku selama ini. Berputar-putar seperti sebuah film hitam putih yang terus terulang di dalam benak ini.

Tak kuasa.

Pantaskah aku terlahir di dunia ini?

Luka.

Hanya goresan luka yang bisa kuberikan. Adakah rasa yang lebih sakit di dunia?  selain rasa akan luka yang tergoreskan oleh kertas?

Aku tak tahu.

Dalam hati ini selalu bertanya-tanya.

Ku ikuti pandangan ayah menatap wajah Ibu di potret itu. Sungguh. Wanita yang telah berjuang hidup dan matinya hanya untuk melihat senyumku menatap dunia ini.

Cantik parasnya bak bidadari syurga, tak bisa aku melukiskan cantik hatinya dengan kata-kata. Bola matanya yang coklat, bibir tipisnya yang tersenyum di potret itu, sungguh menyejukkan hati.

Aku tak tahu apakah Ibu masih tersenyum di syurga melihat ini semua, kegilaan yang begitu saja membuatku lupa akan segalanya.

Aku hanya ingin mendengar suaramu Ibu.

Hanya foto inilah satu-satunya yang bisa membuatku melihat ibu tersenyum. Sedari kecil ibu menukarkan kehidupannya hanya untuk memperjuangkanku agar bisa menatap dunia ini.

Dalam lamunan ini, tak kusadari ayah terus menyaksikan air mata ini yang mulai menetes dari mataku.

“Amhi …? kamu kenapa? kok nangis, Nak?”

Sekejap aku beranjak dari tempat dudukku memeluk ayah dengan mug yang masih terpegang di kedua tangannya, sesekali bergetar kecil tangan rapuhnya itu.

“Ayah …, ma-maafkan Amhi. Maaf, Ayah.” Kudekap erat pundaknya yang mulai membungkuk layu, lirih ucap ini. Tak kuasa ku membendung bulir-bulir ait mata ini.

Aku tahu, ini akan menjadi pelukan terakhirku untuk ayah. Setelah aku mengatakan apa yang ada di dalam perutku ini. Aku tahu betul sifat ayah. Dia adalah seorang veteran perang, yang kala itu pernah melawan penjajah bersama Jendral Sudirman di barisan paling depan. Bisa-bisa aku akan di usir dari rumah ini.

Aku rasa ini bukan saat yang tepat untuk mengatakan akibat kegilaanku.

“Sudah, Nak. Ayah harap ini menjadi air mata terakhir kalinya yang ayah lihat ya,” tutur ayah jelas di telingaku, dengan suara yang bergetar sepertinya butuh banyak tenaga untuk mengeluarkan suara dari bibirnya yang mulai mengering pucat keriput.

Perlahan ku lepaskan pelukanku. Sepasang bibir tipisku ini mendarat dengan perlahan di antara garis-garis keriput dahinya.

Maafkan Amhi ayah.

Maafkan ….

Dalam hati ini tak henti-hentinya kata maaf terucap, aku rasa kata maafpun tak bisa menutup luka yang aku berikan padanya.

“Kakakmu kemana, Mhi?” Tanya Ayah padaku yang saat ini aku telah kembali duduk di posisi semula, masih dengan derai air mata. Ku coba untuk menenangkan hati ini.

“Kakak …, tadi katanya dia gak pulang, mau bermalam di rumah temannya yang baru saja pulang dari kota,” jawabku pada ayah. Padahal aku tak tahu kakak pergi kemana malam ini.

“Ada hal yang sangat penting yang ingin ayah bicarakan sama kakakmu.” Wajah serius nampak di perlihatkan oleh ayah.

“Tadi …”

To be continued ….

Part Sebelumnya …

Share
Shohibul Kahfi

Shohibul Kahfi

Penulis pemula dengan imajinasi seadanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke atas