Gadis – Tara Dipa

Pak Zul selalu saja menutup rumah tepat jam 7 malam. Rumahnya, hanya dibuka pada saat ada tamu dan jika ada keperluan penting saja.

Ada satu laki-laki yang selalu nekat untuk menemui anak gadis Pak Zul. Ia diam diam menemui anak gadis tersebut melalui perantara jendela.

“Arin, apakah kamu mau makan di Warmindo?” Tanya Arga, ia selalu saja datang ke rumah Arin untuk sekadar menawari makan di warmindo favoritnya.

“Mau, tapi ayahku tetap ga boleh”

Arga selalu memutar kepala, bagaimana ia bisa membawa Arin pergi tanpa harus ketauan Pak Zul. “Kenapa? Kenapa protektif sekali sih?” Keluh Arga.

“Ya karena dia anak gadis saya! Sudah sepatutnya saya jaga dan tidak saya biarkan berkeliaran dimalam hari!” Zul datang dengan membawa sapu di tangan kanannya, ia siap memukul laki-laki lancang yang tiap malam datang ke rumahnya.

“Lantas, mengapa bapak kekang anak gadis bapak? sedangkan dia bakal saya jaga diluar kok,” Bibir Arga bergetar takut, dia sebenarnya sangat takut untuk berbicara sekarang.

“Ada bukti dan konsekuensi jika anak saya aman? Atau jika anak saya terjadi apa-apa?”

“Tidak, tapi saya jamin! Anak bapak bakal aman!” Kukuh Arga.

“Basi, aman-aman-aman diluaran sana, gaada yang aman jika bersama orang tua. Pergi kamu sana, jangan meracuni anak saya agar liar seperti yang lain.” Zul mendekat ke Arga sambil mengayunkan sapu tersebut.

“Kalo kena saya visum neh.” Tantang Arga

Arin semakin kalut dengan pergaduhan teman dan ayahnya. Ia pun keluar dan berlari menuju tempat kegaduhan itu. Memisahkan ayahnya yang sedang dibalut amarah. “Ayah, udah! Arin ga bakal keluar kok.” Arin memeluk ayahnya agar tenang.

“Kamu dengar sekarang?! Cepat pergi! Sebelum saya pukul kamu!” Zul semakin memanas tapi ia bisa meredam emosinya.

Arga yang merasakan posisi yang tidak imbang, ia pun perlahan berlari menjauhi bapak dan anak itu.

Dalam hati Arga hanyalah ingin membuat suprise ulang tahun Arin yang ke 17, untuk terakhir kalinya. Sebelum, dia pergi karena kasus orangtuanya yang harus ditutupi.

Sedangkan Zul, ayah Arin. Tentu saja tidak ingin anaknya merasakan trauma lagi. Cukup menjadi gadis rumahan. Sudah aman bagi anak satu-satunya. Pemulihan trauma anaknya itu berjalan lambat, jika saja dia memperbolehkan anak gadisnya keluar rumah tanpa penjagaan. Dia pasti bakal terpuruk, dan anak gadisnya merasakan trauma yang pahit lagi.

Dari kedua sisi, kedua laki-laki itu sangat menyayangi Arin dengan cara berbeda. Sebagaimana, Arin adalah gadis yang sangat berharga bagi mereka.

Lolos moderasi : 5 Desember 2020

Tulis-ceritamu-shohibul-kahfi
Share
Tara Dipa

Tara Dipa

Bucin izonee

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke atas