Istriku Males Lipet Baju – Bagian Dua

“Bang, bangun bang,” ucap istriku membangunkanku dari tidur,dia mengusap lembut pipiku.
 
Aku sedikit mengerjap dan membuka mataku.
 
“Ko Abang tidur disini juga?” tanya istriku.
 
“Tadi malam Abang terbangun dan melihatmu ga ada di kamar,makanya Abang mencarimu,ternyata disini,” jawabku.
 
“Bentar lagi shubuh bang, bangunin Zidan dan ajak shalat shubuh ke mushalla dulu,” kata istriku.

Aku sedikit menggeliatkan badan dan segera bangun untuk shalat shubuh di mushalla dekat rumahku bersama anak sulung ku.
 
***
 
Sepulang dari mushalla aku langsung mencari istriku,biasanya dia sekarang lagi sibuk di dapur nyiapin sarapan sambil nyuci pakain kotor.
 
“Dek,pagi ini masak apa?”tanyaku.
 
“Goreng ikan sama bikin terong balado kesukaan Abang aja,”jawabnya.
 
“Ade ga marah kan sama Abang?”tanyaku perlahan.
 
“Ga bang,” jawabnya singkat.
 
“Syukurlah kalau begitu,”balasku.
 
“Aku ke depan dulu ya de, mau manasin motor sekalian nyapu halaman,udah banyak sampahnya,” kataku.
 
“Iya bang,”jawabnya.
 
Aku pun berlalu dan tanpa sengaja netra kami bertemu, bisa ku lihat kalau matanya sembab habis menangis tadi malam. Aku semakin menyesal.
Sambil menunggu manasin mesin motor aku menyapu halaman depan yang ku lihat sudah banyak sampah yang berserak. Maklum halaman rumahku luas jadi kalau sore hari banyak anak-anak yang bermain disini.
Aku kembali termenung terbayang wajah dan mata istriku yang sembab. Masa iya istriku tidak marah dengan aku.
 
Biasanya jangankan menyinggung masalah istri baru, kalau aku ada like postingan cewek di sosial media aja dia bisa marah besar padaku.
Ku ingat-ingat lagi selama hampir 10 hari ini istriku memang terlihat berbeda.
 
Tidak banyak bicara, tidak mengeluhkan kelakuan anak-anak di rumah, bahkan dia sudah tidak protes kalau aku menaruh handuk sembarangan sehabis mandi.
 
“Apa benar dia ga marah sama aku? Apa istriku lagi sakit?”gumamku.
 
“Bang, ayo masuk,mandi dulu baru kita sarapan,” panggil istriku membuyarkan lamunanku.
 
“Eh iya dek,”jawabku.
 
Aku pun masuk dan mandi. Ku lihat istriku tengah sibuk memandikan dua anak perempuanku.
 
“Kak Yulia, yang betul gosok giginya ya,” katanya pada Yulia.
 
“Iya ma,” sahut Yulia.
 
“Ayo sayang kita pakai sabun dulu,mandi yang bersih, biar sehat, biar segar jadi anak shalehah mama,” celoteh istriku sendiri sambil memandikan Vania.
 
 
 
Sesaat setelah aku selesai mandi dan berpakaian,ternyata anak-anakku pun sudah pada selesai dipakaikan baju oleh istriku.
 
Sulungku pun sudah pulang dari rumah ustad, dia biasanya sehabis shalat shubuh ikut tadarrus Al-Qur’an di rumah ustad dekat mushalla,sambil belajar tajwid.
 
“Ayo anak-anak kita sarapan dulu,”panggil istriku.
 
“Iya ma,”sahut mereka.
 
Kami pun sarapan bersama. Aku masih merasa ada yang beda dengan istriku. Setiap kali aku berusaha menatap matanya, dia selalu mengalihkan pandangannya. Padahal dia bilang tidak marah tapi kenapa dia seakan menyembunyikan sesuatu.
 
Tapi aku perhatikan lagi sikapnya terhadapku tetap ramah tidak cemberut.
Sama anak-anak juga terlihat sangat ceria ,sangat bahagia.
Atau istriku hanya tidak ingin terlihat anak-anak kalau dia sebenarnya marah padaku jadi dia berusaha menutupinya pikirku.
 
Selesai sarapan aku pun berangkat kerja. Seharian ku lalui di tempat kerja dengan perasaan masih bersalah. Padahal aku tahu istriku bilang dia tidak marah padaku.
Sesaat setelah tutup toko, aku pun memanggil rekan kerjaku,Dani.
 
” Dani, bisa bicara sebentar ga?”panggilku.
 
“Iya Nal, ada apa?”jawab Dani.
 
“Kamu pernah ga merasa bersalah sama istrimu?”tanyaku.
 
“Ya pernah lah,namanya rumah tangga pasti banyak hal dilalui,cekcok,dll.,”jawabnya.
 
“Terus gimana?”tanyaku.
 
“Istriku bilang dia ga marah,tapi aku merasa dia beda,”kataku lagi.
 
“Gini Nal, coba kamu beliin dia hadiah, atau kasih dia bunga,pasti dia senang dan berhenti merajuk.”Saran Dani padaku.
 
“Begitu ya?”ucapku pelan.
 
“Biasanya sih perempuan pasti tersentuh hatinya,”kata Dani.
 
“Kamu kan udah nikah 12 tahun,masa iya lupa cara merayu istri?”katanya lagi.
 
“Atau selama ini kamu seakan terlena sehingga lalai tentang hal-hal kecil dari istrimu,” lanjutnya lagi.
 
Aku tertegun mendengar ucapan Dani.
 
Astaghfirullahal’azim.
 
Mungkin ada benarnya juga aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri,dengan hobiku dan anak-anak jadi istriku jarang aku perhatikan lagi.
 
“Tapikan di dalam rumah tangga tugas istri kan memang seperti itu.” Ego ku kembali naik seakan tidak terima ada sudut hati yang mulai tertegun setelah mendengar penjelasan Dani.
 
“Oke lah,aku akan membeli bunga dulu sebelum pulang,makasih atas sarannya,” kataku.
 
“Iya sama-sama,”ucap Dani sambil berlalu menjalankan motornya juga.
 
***
 
Aku mulai berkeliling mencari toko bunga. Dan akhirnya aku sampai di sebuah toko bunga yang aku lihat sangat menarik. Aku pun masuk kesana.
 
“Selamat sore pak,” sapa penjual bunga.
 
Seorang gadis cantik dan anggun,membuat netraku seakan tak mampu berkedip saat menatapnya.
 
“Selamat sore Bapak,ada yang bisa saya bantu?” tanyanya lagi dan berhasil membuatku tersipu.
 
“Oh iya, selamat sore juga,”jawabku.
 
“Aku ingin beli bunga untuk istriku mba, bunga apa yang cocok ya?” tanyaku.
 
“Istri bapak sukanya bunga apa?” Dia bertanya balik.
 
“Apa ya? Aku lupa mba,” jawabku malu-malu. Mba penjual bunganya tersenyum,cantik sekali seperti bunga-bunga yang ada disana.
 
“Astagfirullah,” gumamku.
 
“Sadar Zainal,sadar lu udah punya anak istri dan kesini mau beliin instri lu bunga,” tegur hati ku.
 
“Biasanya istri bapak sukanya warna apa?”
 
“Ehm….”gumamku panjang.
 
“Ini ada mawar putih baru datang dan sangat cantik,ini melambangkan ketulusan,” lanjutnya.
 
Aku hanya mengangguk mendengarkannya,mungkin dia bisa membaca kebingunganku, saat ditanya tentang istriku tapi aku malah lupa atau mungkin lebih kasarnya aku seperti sengaja melupakan.
 
“Oke mba,aku mau mawar putihnya,”kataku.
 
“Iya pak,”katanya.
 
Dia segera membuat bingkisan bunga dari mawar putih cantik dan sederhana namun terlihat sangat bermakna.
 
“Ini bunga nya pak,” katanya seraya menyerahkan bunga itu padaku.
 
“Semoga bunga ini mewakili tulusnya perasaan bapak ke istrinya ya,” lanjutnya saat aku membayar bunganya.
 
“Iya makasih mba,” ucapku.
 
Segera ku pacu motorku,rasanya sudah tak sabar ingin pulang dan bertemu istriku.
 
Ya istriku.
 
Mungkin selama ini aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri sampai aku lupa dimana letak rindu ini di hati.
Apa karena setiap hari terbiasa bersama jadi aku hilang arah sampai lupa bahwa ada hati yang semestinya tetap ku jaga hingga usia berapa pun sampai kapan pun.
 
” Oh istriku maafkan aku,”gumamku sendiri.
 
***
 
Setelah 10 menit berkendara akhirnya sampai juga di rumah.
 
“Assalamualaikum,” ucapku saat memasuki rumah.
 
“Wa’alaikum salam,”sahut istri dan anak-anak ku bersamaan.
 
“Waah sudah pada wangi dan rapi nih,” kataku pada anak-anak.
 
“Iya dong yah,kan kita punya mama yang hebat.” Puji sulungku pada istriku. Seakan menjadi sebuah tamparan hebat,aku sendiri entah kapan terakhir kali memuji istriku.
 
“Oh iya,ini ayah ada punya sesuatu untuk mama,” kataku seraya menyodorkan buket bunga yang aku beli tadi.
 
“Ci ye ayah ngasih mama bunga,” kata sulungku sambil tertawa.
 
“Terima dong dek,”kataku pada istriku.
 
“Iya ambil dong ma,” kata anak ku lagi.
 
“Iya,” kata istriku seraya mengambil buket bunga yang aku kasihkan tadi.
 
“Terima kasih banyak ya bang,” ucapnya.
 
“Iya sama-sama istriku sayang,terima kasih selama ini sudah tulus mendampingiku,” ucapku lagi.
 
“Aku mandi dulu ya,” kataku.
 
“Iya,”jawab istriku singkat.
 
Tapi aku bisa melihat seutas senyuman di bibirnya.
Ya Allah ampuni hamba jika selama ini hamba lalai dengan anugerah terbesar Mu ini.
 
***
 
Selesai mandi aku menemani anak-anak menonton telivisi sambil menunggu waktu shalat magrib.
 
” Zidan,” panggilku pada sulungku.
 
“Iya ayah,” jawabnya.
 
“Hari ini Zidan dan Ade ngapain aja di rumah?” tanyaku.
 
“Hari ini kita seru banget yah di rumah, aku bantuin mama beresin baju yah,tapi tiap baru selesai,diberantakin Ade Yulia lagi,” katanya.
 
“Oh ya,” kataku “terus gimana?”
 
“Mama sampai harus ngulang beberapa kali untuk beresin pakaian 1 keranjang aja yah,habisnya di berantakin Yulia terus,” jawabnya polos.
 
“Ade Vania gimana?” tanyaku lagi.
 
“Mama itu ngerjain apapun di rumah sambil gendong Vania ayah,kecuali dia tidur,” lanjutnya.
 
“Ayah,aku jalan duluan ya ke Mushalla,habis magrib nanti sekalian ngaji tempat ustad Fauzan,” katanya lagi.
 
“Iya nak, hati-hati ya!” kataku.
Dia hanya mengangguk dan tersenyum.
 
“Assalamualaikum,” ucapnya.
 
“Wa’alaikum salam,” jawabku.
 
***
 
Mendengar kata-kata sulungku tadi membuatku semakin merasa bersalah atas ucapanku tadi malam terhadap istriku,cuma masalah cucian aja sampai segitunya aku menyakiti hatinya.
 
“Sungguh aku suami yang sangat egois,” gumamku sendiri.
 
“Aku ingin memperbaikinya,memperbaiki semuanya ya Allah,” bisikku lirih.
 
***
 
Selesai shalat magrib, ku hampiri istriku yang lagi menemani dua putriku di kamar.
 
“De,Ade cape?” tanyaku.
 
“Ga ko bang,” jawabnya.
 
“Bang,tolong jaga anak-anak sebentar ya,Ade mau ke kamar mandi,” ucapnya.
 
“Iya de,” jawabku.
 
Aku duduk sambil memperhatikan dua balita ini,anakku yang berusia 3 tahun sungguh aktif,dia tidak bisa diam. Mulutnya ngoceh ini itu,anggota tubuhnya yang lain pun ga bisa diam. Kesana kemari,berantakin mainan dimana-mana.
 
Padahal baru 10 menit aku diminta istri menjaga mereka.
Mana bungsuku minta gendong lagi.
 
Aku merasa heran,ko selama ini istriku bisa bikin rumah rapi, anak-anak wangi tiap aku pulang kerja.
 
“Dek,ko kamu ga pernah ngeluh capenya jagain anak-anak sih ke aku?”  gumanku sendirian.
 
Aku yang baru beberapa menit aja menjaga mereka merasa kewalahan. Kemana aja aku selama hampir 12 tahun ini,apa aku ini mayat hidup sehingga tidak bisa melihat dan memahami semua ini.
 
Ku akui aku memang masih sering nongkrong bareng teman-temanku,saat malam aku juga masih sering keluar untuk sekedar main futsal. Kalau terkadang aku pulang cepat dari tempat kerjaku,akupun lebih sering main bola dulu di lapangan baru menjelang magrib pulang ke rumah.
 
Sebenarnya istriku bukan ga pernah protes,tapi aku mikirnya ya ga pa pa selama aku masih menjaga komitmen rumah tangga,lebih baik aku bermain futsal atau bola daripada aku main perempuan.
Jadi dia ga protes macam-macam kalau aku sudah bilang seperti itu.
 
“Sungguh egois aku ini,” hatiku mulai berkata.
 
Selama ini aku terima beres semua urusan rumah tangga, anak-anak,kebersihan rumah,pakaianku,dll.,semuanya siap pakai.
Aku menghela nafas.
 
“Ah… Betapa tidak bersyukurnya aku ini,”gumamku lagi.
Tiba-tiba.
 
Hueek…Hueek…
 
Ku dengar suara istriku muntah dari dapur. Aku segera kesana dan benar saja ternyata istriku sedang muntah.
 
“De,Ade kenapa?” tanyaku saat dia sudah selesai sambil membawakan air hangat untuknya.
 
“Ga pa pa bang,” sahutnya.
 
“Sedikit pusing dan mual aja,” kata istriku.
 
Entah kenapa aku merasa khawatir sekali kali ini. Ya Allah tolong jaga mereka.
 
***
 
Setelah makan malam istri dan anak-anakku langsung tidur. Aku masuk ke kamar anak-anak, ku lihat wajah mereka satu persatu,seperti kelelahan.Aku merasa sudah kehilangan banyak waktu untuk bersama mereka.
 
Ku tutup pintu kamar mereka perlahan dan kembali ke kamarku. Kulihat istriku pun sudah tertidur.
 
“Sayang,maafkan aku,” bisikku lirih sambil mencium keningnya.
 
Aku mulai berbaring disampingnya,mata ku belum bisa terpejam.
 
Sebenarnya aku ingin…..

Pengarang cerita : Mulhimah Muhamad Irfan
Editor : Ilham Firyanto
Sumber : New KBM (Komunitas Bisa Menulis)
Ilustrasi Cover : Kahfi

Cerita ini sudah mendaptkan persetujuan langsung dari sang pengarang untuk di publikasikan kembali.

Share
Shohibul Kahfi

Shohibul Kahfi

Penulis pemula dengan imajinasi seadanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke atas