Istriku Males Lipet Baju – Bagian Empat

Pov Yumna (istri Zainal)
Sebelum anak ketiga lahir.

“Aduh, kenapa akhir-akhir ini perut bagian bawah aku sering sakit ya kalau aku kelamaan duduk,” gumamku sore itu saat menjaga Yulia yang sedang asyik bermain dengan teman-temannya di ruang tamu.”Mungkin cuma masuk angin saja,” tepisku lagi.

***

Malam hari ketika anak-anakku sudah tidur,aku dan suami pun segera beranjak ke kamar tidur kami. Sebagaimana lumrahnya pasangan suami istri, suamiku pun meminta haknya sebagai suami dan sebagai seorang istri pun aku selalu berusaha untuk tidak menolaknya, walau terkadang badan sudah capek seharian mengurus rumah dan anak.

Setelah selesai menunaikan kewajibanku akupun segera bangun untuk membersihkan diri. Aku kembali ke kamar dan merapikan tempat tidur dan bersiap tidur. Tapi suamiku malah memelukku dari belakang dan berkata.

“De, perasaan sudah lama adek ga dapet?” ucapnya.

“O iya ya, ini bulan apa bang?” tanyaku”Desember dek,” jawabnya.

Aku melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah kalender seraya mengingat-ingat lagi kapan terakhir kali dapet.

“Kayanya aku terakhir dapet awal Oktober deh bang,” kataku ragu.

Karena siklus dapetku memang ga teratur dari dulu bahkan dari sebelum menikah. Jadi aku ga terlalu memikirkan nya kalau telat dapet.

“Tapi aku kan pakai alat kontrasepsi bang, tiap bulan kan suntik,” kataku lagi.

“Oh…”

“Ya sudah, ayo kita tidur,” kata suamiku.

“Iya bang, duluan aja bentar Ade nyusul,” jawabku.

Ku lihat Suamiku sudah berbaring dan tertidur. Aku masih terjaga, membereskan mainan anak-anak yang masih berserak. Setelah selesai aku mulai merapikan pakaian kering yang ada di keranjang.

Sebenarnya badanku sudah terasa sangat cape, tapi aku masih terjaga untuk merapikan pakaian kering suamiku, supaya kalau dia mau berangkat kerja tidak kelimpungan mencari pakaiannya.

Memang kebiasaan suamiku kalau mau pergi atau kerja pakaiannya harus sudah rapi di tempatnya, karena dia paling tidak suka kalau mau pergi pakaiannya masih belum rapi apalagi kalau harus mencari mangaduk-aduk keranjang pakaian.

Dan itu sudah aku pahami sejak awal-awal menikah dulu. Jadi sesibuk apapun aku akan berusaha merapikan pakaian suamiku. Kalau pakaianku dan anak-anak kapan-kapan kalau masih sempat. Saat menyusun pakaian ke lemari aku jadi teringat perkataan suamiku tadi, besok aku akan beli alat tes kehamilan gumamku.

***

Pagi hari setelah suamiku berangkat kerja aku segera membereskan rumah, nyapu dan ngepel, kemudian jemur pakaian. Ku lihat anak-anak lagi nonton televisi. Aku segera mandi dan bersiap untuk pergi ke pasar membeli keperluan dapur.

“Kak Zidan, sini bentar nak,” panggilku pelan pada sulungku agar adeknya tidak mendengar.

“Apa ma?” Dia bertanya dan menghampiri.

“Mama mau ke pasar sebentar beli ikan dan sayuran, temanin adek ya,” kataku.

“Lama ga?” tanyanya.

“Sebentar aja kan pasarnya dekat,” kataku.

“Iya ma,” jawabnya.

“Ingat jangan buka pintu kalau ada yang mengetok selain mama, mama cuma sebentar,” pesanku.

“Iya ma, Zidan sudah tau,” katanya.

Akupun pergi ke pasar, karena jaraknya yang dekat kurang dari 5 menit aku sudah sampai. Aku segera membeli ikan dan sayuran serta kebutuhan dapur lainnya untuk satu minggu ke depan.

Kemudian segera pulang dan tidak lupa mampir sebentar di toko obat untuk membeli alat tes kehamilan. Sesampainya di rumah aku membuka kunci pintu dengan perlahan dan langsung ke dapur untuk menaruh belanjaan dari pasar tadi.

Kemudian aku menengok anak-anak di kamar ternyata mereka masih asyik menonton televisi sambil bermain. Satu keranjang mainan yang tadi malam aku bereskan sudah berserak semua di lantai. Aku menarik nafas dalam.

“Ah biar kan saja,” gumamku sambil tersenyum pada sulungku yang ternyata melihatku.

Aku memang sering meninggalkan mereka berdua di rumah kalau hanya untuk membeli sayur ke pasar. Karena jarak pasar yang dekat dari rumah, jadi tidak butuh waktu lama bagiku untuk bolak balik dari pasar ke rumah.
Ya tentunya dengan persetujuan dari sulungku yang sudah berusia 9 tahun untuk menemani adeknya. Akupun kembali ke dapur dan melanjutkan segudang aktivitas sebagai ibu rumah tangga.

***

Hari ini terasa sangat melelahkan bagiku. Serasa tidak sabar untuk membaringkan diri di tempat tidur. Ku lihat jam sudah berlalu pukul 9 malam. Setelah selesai menidurkan anak-anak aku teringat masih belum mengerjakan salat isya.

Aku segera mengambil wudhu dan salat isya. Kemudian segera ke kamar tidur untuk istirahat. Malam ini suamiku lagi keluar,ngumpul teman-temannya katanya. Sebenarnya bang Zainal selalu meminta izin kepadaku kalau mau keluar. Entah itu sekedar nongkrongnya atau untuk bermain futsal.

Tapi menurutku dia meminta izin itu dengan jawaban yang pasti iya atau boleh.

Kalau dia bilang “Dek nanti malam Abang boleh keluar ga ngumpul sama teman-teman?”

Jawabannya ujung-ujungnya harus boleh. Karena walau aku melarangnya dengan alasan apapun, dia akan tetap pergi. Dari awal pernikahan aku sudah sering berbicara ini itu, berdebat begini begitu.
Tapi tetap saja jawabannya harus boleh. Sehingga sekarang ada perasaan malas untuk melarangnya untuk ini dan itu, walau terkadang masih ingin ngelarang.

***

Aku terbangun saat mendengar suara azan Subuh. Kulirik jam dinding ternyata sudah pukul setengah 5 pagi. Ku lihat lagi di sampingku ternyata suamiku masih tidur.

Aku bangun perlahan kemudian membangunkan suamiku untuk salat subuh. Ku ambil alat tes kehamilan yang aku beli kemaren dan segera ke kamar mandi. Setelah menunggu beberapa saat aku terkejut melihat hasilnya ternyata garis 2.

Aku merasa sedikit ragu, karena selama ini aku masih menggunakan kontrasepsi.

“Hari ini aku harus segera cek ke dokter kandungan,” gumamku pada diri sendiri. Saat keluar kamar mandi, aku kembali sedikit terkejut ternyata suamiku sudah ada di depan kamar mandi.

“Lama betul di dalam”? Ucapnya.

“Eh iya, anu bang tadi mules,” kataku.

Aku segera mengambil wudhu dan shalat shubuh, ku berserah diri kepada Allah.

“Ya Allah, aku terima dengan ikhlas apapun yang terbaik menurut Mu,”
Pukul 10 pagi aku menelpon no salah satu tempat praktek dokter kandungan di kotaku.

“Iya jam 7 malam ya,” ucapku menyetujui.

Tuut.

Sambungan telpon pun terputus.

***

Sore hari setelah aku mandi, ku lihat Suamiku lagi duduk di ruang tamu sambil memainkan gawainya, aku pun menghampirinya.

“Bang,” kataku.

“Eem,” sahutnya.

“Habis magrib jagain anak-anak bentar ya, Ade mau jalan sebentar,” ucapku.

“Mau kemana?” tanyanya.

“Ke tempat praktek bidan bang,”ucapku lagi.

“Oo iya, Abang kira mau kemana,” sambungnya.

***

Jam 7 tepat aku sudah berada di tempat praktek dokter kandungan tersebut. Setelah memperlihatkan kartu pasien dan memberi tahu nama di daftar tunggu aku duduk dulu.

Aku menunggu sekitar 15 menit sebelum akhirnya dipanggil untuk masuk ke ruangan dokter.

“Ibu Yumna, silakan!” Panggilnya.
Aku pun masuk.

“Selamat malam ibu, apa kabar?” Sapa dokternya. “Dengan ibu Yamna ya? Ada keluhan apa?” Lanjutnya.

“Begini dok, saya kan rutin suntik tiap bulan tapi hampir 3 bulan sudah ga dapet, nah td pagi kan iseng tes ternyata hasilnya positif, jadi USG untuk memastikannya,” ucapku.

“Oke, ayo naik dan berbaring dulu,” ucapnya.
Dokter mengoleskan gel di perut dan mulai melakukan USG.

“Iya benar ibu sedang mengandung, ini kantong bayinya, posisi di dalam rahim, dan selamat ternyata usia kehamilan ibu sudah 10 minggu,” katanya.

Aku hanya mengangguk-angguk saja sambil memperhatikan.
Setelah beberapa menit.

“Oke sudah selesai,” katanya.

Aku segera bangun dan merapikan pakaianku. Kemudian kembali duduk berhadapan dengan dokter.

“Gini Bu usia kehamilan ibu sudah 10 minggu, tapi saya lihat di rahim ibu juga ada semacam gumpalan kecil,” ucapnya.

“Gumpalan apa dok? Apa itu berbahaya?” Tanyaku agak khawatir.

“Belum bisa di pastikan, pada banyak kasus itu terjadi hanya karena faktor hormonal saja, karena hormon kehamilan dan bisa menghilang selepas melahirkan,” jelasnya.

“Yang penting ibu tetap jaga kesehatan, jaga asupan gizi dan rutin untuk kontrol ya Bu, sama satu hal lagi, ibu tidak boleh terlalu cape,” tambahnya.

“Iya dok terimakasih banyak,” ucapku seraya keluar ruangan.

Akupun pulang ke rumah, ada sedikit kekhawatiran di hati tapi aku berusaha untuk menepisnya dan berdoa kepada Allah untuk selalu di jaga dengan baikan.

“Assalamualaikum,” ucapku saat memasuki rumah.

“Wa’alaikum salam,” jawab suami dan anakku.

“Mama dari mana?” tanya sulungku.

“Dari praktek dokter sayang,” jawabku sambil duduk disampingnya dan mengusap kepalanya. Si kecil Yulia pun segera duduk dipangkuanku.
Ku lihat Suamiku hanya sibuk dengan game di gawainya.

“Nanti aja lah ku beri tahu tentang kehamilan ku pas ma tidur,”gumam hatiku.

***

Sehabis shalat isya dan makan malam anak-anakku pun mulai beranjak ke kamar tidur mereka. Suamiku pun ku lihat berjalan ke kamar tidur kami. Aku segera membereskan peralatan makan dan sisa makan malam tadi.
Saat mau masuk ke kamar ternyata suami ku ingin keluar kamar. Kulihat dia sudah siap dengan stelan kaos nya untuk bermain futsal.

“Mau jalan bang?” tanyaku.

“Iya de, mau main futsal dulu,” jawabnya.

“Aku bawa kunci, Abang jalan dulu ya,”ucapnya.

“Eemmm,” sahutku pelan.

Ya sudahlah, besok-besok masih bisa untuk memberi tahu tentang kehamilanku ini pikirku. Aku pun segera tidur, melepas penat setelah seharian dengan rutinitas ibu rumah tangga.

“Bismillahirrahmanirrahim,” ucapku seraya berbaring.

to be continued

Pengarang cerita : Mulhimah Muhamad Irfan
Editor : Ilham Firyanto
Sumber : New KBM (Komunitas Bisa Menulis)
Ilustrasi Cover : Shohibul Kahfi

Cerita ini sudah mendaptkan persetujuan langsung dari sang pengarang untuk di publikasikan kembali.

Share
Shohibul Kahfi

Shohibul Kahfi

Penulis pemula dengan imajinasi seadanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke atas