Istriku Males Lipet Baju – Bagian Tiga

istriku-males-lipet-baju-cerpen-sohhibulkahfi

Entah kenapa malam ini rasanya mata ini sangat sulit untuk dipejamkan. Padahal harusnya aku bisa merasa tenang karena istriku tidak marah padaku.

Mata ini menatap wajah istriku yang hampir 12 tahun mendampingiku dan memberikan 3 orang anak yang sungguh luar biasa.

Usianya memang tidak muda lagi, mulai ada terlihat kerutan di bawah matanya, tapi dia tetap cantik. Sudah lama sekali rasanya aku tidak pernah memandangnya sedalam ini.

Niat hatiku malam ini ingin minta maaf sama istriku atas ucapanku kemaren malam dan atas semua ucapan yang lain yang mungkin mengukir luka batin di hatinya.

Tapi ternyata malam ini dia tidur nyenyak,mungkin kecapean pikirku. Ada sedikit perasaan lega juga sebenarnya, jujur aku ini tipekal orang yang sangat sulit untuk meminta maaf dan mengakui kesalahanku. Aku merasa malu. Entah kenapa sangat sulit rasanya ku utarakan alasannya.
Setelah puas miring kanan dan kiri akhirnya aku pun bisa tertidur juga.

***

Krreeeiit…

Aku terbangun mendengar bunyi pintu dibuka. Aku melirik jam dinding ternyata sudah pukul 4 pagi. Akupun beranjak bangun karena kulihat istriku sudah tidak ada di tempat tidur.

Saat aku keluar kamar, aku kaget melihat istriku tengah terbaring di depan ruang shalat, dengan cepat ku pangku kepalanya sambil mengusap pipinya perlahan.

“Dek, bangun dek.”

“Adek kenapa? Dek, ayo bangun.” Aku gelagapan mendapati mendapati kondisi istriku yang demikian.

“Dek, adek kenapa?” Dia msih tidak menyahut dan hanya bisa membuka sedikit matanya kemudia terpejam lagi.

Aku bergegas mencari ponselku dan menelpon mba Ranti, tetangga kami sudah kami anggap seperti saudara sendiri, kami sama-sama perantau dan tidak memiliki sanak saudara di perantauan.

Segera ku tekan no telponnya.
Dan berdering…

“Alhamdulillah tersambung,” gumamku.

“Assalamualaikum mba Ranti.”

“Wa’alaikum salam, ada apa mas nelpon shubuh shubuh begini?” tanyanya.

“Gini mba, bisa ke rumah sebentar ga? Istriku pingsan mba, aku ingin membawanya ke rumah sakit,” kataku.

“Iya sebentar mas, saya kesana,” jawabnya.

Tut.

Sambungan telpon pun terputus. Dan tidak lama pintu depan di ketuk akupun segera membukakan pintu.

“Mba Ranti ayo masuk.”

“Iya,mana dek Yumna nya mas?” tanya mba Ranti.

“Aku baringkan di kamar, sudah siuman.” Mba Ranti bergegas masuk mengikutiku.

“Oya mba, aku nitip anak-anak sebentar ya, maaf merepotkan mba Ranti lagi,” kataku.

“Ga apa mas,” jawabnya.

“Oya ini pakai mobil mas mu dulu, susah bawa dek Yumna kalau naik motor dalam keadaan seperti ini,” katanya lagi.

“Iya mba, aku ke rumah sakit dulu ya, assalamualaikum,” kataku.

“Iya, hati-hati ya. Wa’alaikum salam,” jawabnya.

***

Sesampainya di Rumah Sakit istriku langsung di bawa ke UGD, langsung ditangani sama perawat, dipasang selang infus dan di ambil darahnya. Setelah satu jam akhirnya istriku mulai sadar dan bisa di ajak bicara oleh dokter. Dokter hanya menanyakan keluhan yang dirasakan istriku.

“Cuma pusing dan sedikit sakit kepala aja dok,” katanya.

“Oke, untuk sementara kita tunggu hasil laboratorium dulu ya. Semoga lekas pulih.” ucapnya.

Kemudian berlalu meninggalkan istriku. Aku hanya terdiam di samping ranjang istriku, menggenggam erat tangannya tanpa bisa banyak berkata. Aku merasa takut,merasa sangat takut kehilangannya.

Jam 7 pagi akhirnya istriku pun mulai terbangun. Matanya melihat sekeliling kemudian dia tersenyum saat bertemu dengan mataku. Ada sedikit perasaan lega melihatnya tersenyum.

“Bang,kenapa mata Abang merah? Habis ngupas bawang?” Dia berusaha menghiburku. Dan aku berusaha untuk tersenyum memandang wajahnya.

“Apa yang adek rasakan sekarang?” tanyaku.

“Ga ada bang,” jawabnya singkat sambil memalingkan wajah.

“Dek, Abang sangat takut kehilangan adek,” ucapku tergugu, akhirnya air mata yang ku tahan dari tadi keluar juga. Dia menatapku kembali dan mengusap air mataku.

“Bang, kita semua akan berpulang, cuma waktunya saja yang kita belum tahu kapan,” ucapnya perlahan.

“Anak-anak sama siapa bang?” tanyanya lagi.

“Ku titip sama mba Ranti de, ga usah khawatirkan mereka,” jawabku.

“Kalau Abang mau mandi dan ganti baju,ga pa pa pulang dulu,” ucapnya.
Aku merasa ragu meninggalkannya sendirian.

“Adek udah agak mendingan bang,” ucap istriku meyakinkan.

“Sekalian tengok anak-anak dulu bang,” lanjutnya.

“Baiklah, kalau ada yang mau dibawain telp Abang ya dek,” jawabku.

Dia hanya mengangguk pelan. Akupun berjalan ke depan dan menemui suster disana.

“Sus, titip istriku sebentar ya, saya mau nengo anak-anak dulu,” ucapku pada suster disana.

“Iya pak,” jawabnya.

Akupun segera ke tempat parkir dan baru ingat kalau tadi kami memakai mobil mba Ranti. Pasti suami mba Ranti ingin memakai mobil ini untuk jualan keliling. Aku segera bergegas pulang.

***

Sesampainya di rumah, aku lihat anak-anak lagi main ditemani mba Ranti, mereka sudah pada rapi semua.

 

“Assalamualaikum,” ucapku.

“Wa’alaikum salam,” jawab mereka.

“Gimana keadaan dek Yumna mas?” tanya mba Ranti dengan setengah berbisik dan mendekat padaku agar anak-anak tidak mendengarnya.

“Alhamdulillah sudah agak mendingan,masih nunggu hasil laboratorium dulu,” jawabku.

“Alhamdulillah,” ucap mba Ranti.

“Aku mau mandi dan ganti pakaian dulu ya mba.”

“Oya, ini kunci mobil mba. Maaf jadi merepotkan mba untuk menjaga mereka,” ucapku.

“Ga papa mas, mereka juga sudah seperti anak-anakku sendiri,” jawab mba Ranti.

“Anak-anak, siapa yang mau ikut tante ketemu om Rizwan,” katanya.
“Aku,” anak-anakku serempak.

Mereka pun ikut ke rumah mba Ranti.

***

Dalam hati aku bersyukur punya tetangga kaya mba Ranti dan mas Rizwan. Mereka orang baik. Memang Mba Ranti dan suami belum dikaruniai keturunan, makanya mba Ranti sering ngajak main anak-anak ke rumahnya.

***

Aku segera mandi dan bergegas mencari pakaian. Saat aku membuka lemari dan mengambil baju, ada sebuah amplop kecil yang terjatuh.
Aku sedikit mengernyitkan dahi karena merasa tidak pernah menaruh benda tersebut disana.
Segera ku raih amplop tersebut dan di depan amplop itu ada tulisan
“Untuk Suamiku Tersayang”
Aku dengan cepat membuka amplop tersebut dan ternyata isinya adalah…..

Pengarang cerita : Mulhimah Muhamad Irfan
Editor : Ilham Firyanto
Sumber : New KBM (Komunitas Bisa Menulis)
Ilustrasi Cover : Kahfi

Cerita ini sudah mendaptkan persetujuan langsung dari sang pengarang untuk di publikasikan kembali.

Share
Shohibul Kahfi

Shohibul Kahfi

Penulis pemula dengan imajinasi seadanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke atas