Istriku Males Lipet Baju

“Dek, mana masker hitamku?” Pagi ini aku memanggil istriku dengan setengah berteriak.

“Itu bang, di keranjang baju yang kecil.”Jawab istriku dari dapur.

“Dek jaket abu-abuku di mana juga?” tanyaku lagi.

Pagi ini cuaca terasa sangat dingin, jadi aku mencari jaket kesayanganku agar merasa lebih hangat saat di perjalanan ke tempat kerja.

“Di keranjang baju yang biru abang…,” jawab istriku lagi.

Setelah ku cari berulang-ulang akhirnya ketemu juga.

“Bikin dongkol aja pagi-pagi,” gumam ku.

“Sibuk apa sih dia tiap hari? Jadi ga sempet beresin pakaian kering,” gumamku lagi.


“Dek, Abang berangkat kerja dulu ya.” kata ku pada istri yang lagi sibuk nyuci baju.

“Iya bang.” jawabnya singkat.

“Hati-hati di jalan ya.” sambungnya lagi.

Itulah istriku dia cuek tapi sebenarnya sayang padaku.


Kenalkan namaku Zainal, aku mempunyai seorang istri yang bernama Yumna. Aku sudah mempunyai tiga orang anak. Anak sulungku seorang laki-laki bernama Zidan sekarang sudah berusia sepuluh tahun. Anak keduaku perempuan bernama Yulia sekarang sudah berusia tiga tahun dan Si bungsu, yang bernama Vania yang baru berusia tiga bulan.

Aku sudah mengarungi bahtera rumah tangga selama hampir duabelas tahun. Selama ini susah senang kami lalui dengan saling mendukung satu sama lain. Bahkan, banyak masalah yang jauh lebih besar dari hanya lipatan baju kering yang kami berhasil melaluinya. Tapi entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa seakan ada yang berbeda.

Sebelum menikah pun, kami juga sudah saling kenal karena kami pernah satu sekolah saat SMA, sudah saling mengenal hampir lima tahun sebelum akhirnya menikah. Aku bisa lihat kalau istriku itu adalah sosok yang baik, ke ibu-an, penyayang, kalem dan yang pasti cantik. Plus pintar, karena dulu dia selalu rangking pertama di kelasnya. Dan satu lagi, dia pandai mengaji itu yang bikin aku jatuh cinta.


Setelah lima menit di perjalanan, akhirnya sampai juga di toko tempatku bekerja. Sebagai karyawan di sebuah toko bahan bangunan, disalah satu daerah di Kalimantan Timur. Sebenarnya aku dan istri berasal dari daerah Kalimantan Selatan,tapi karena aku tidak punya keahlian apa-apa, aku nekad merantau bersama istriku.

“Pagi Bro,” sapa rekan kerjaku dan membuyarkan lamunanku.

“Pagi,” jawabku singkat sambil tersenyum.

“Baru sampai di toko udah ngelamun aja. Ayo! cepat kita buka toko dan bereskan pajangan barang-barang,” lanjutnya.

“Iya,” jawabku singkat.

Kami pun mulai membuka toko dan berbenah barang-barang jualan. Hampir satu jam baru selesai semua, maklum toko ini merupakan salah satu toko bahan bangunan terbesar di daerahku. Jadi, dari buka toko sampai bersih-bersih nyapu lantai dan merapikan barang-barang, butuh waktu hampir satu jam. Padahal rekan kerjaku berjumlah sepuluh orang.

Aku masih duduk di depan toko di tempat penimbangan paku sambil menunggu pembeli, aku menyiapkan paku pesanan pelanggan toko. Masih kepikiran dengan apa yang dikerjakan istriku di rumah, sampai dia gak punya waktu atau malas betul melipat baju yang sudah dicuci. Tiba-tiba saat aku membetulkan timbangan untuk paku.

” Eh Nal! Lu mikirin apa sih?” Tepuk Dani di bahuku dan berhasil membuatku kaget.

” Dari tadi aku lihat kaya ngelamun aja,” sambungnya.

” Ga pa pa,” jawabku.

” Ayo lah Nal, kita udah sama-sama kerja di sini lima tahun, dan aku sedikit banyak tahu karakter kamu”, ucap dani.

Aku menarik nafas perlahan dan menaruh paku-paku pesanan pelanggan yang sudah ditimbang, lalu duduk di samping Dani.

“Dan. . .” panggilku.

“Ya ada apa?” sahutnya.

” Aku mau tanya, istri lu di rumah ngapain aja sih?”

“Ya biasa lah, kerjaan rumah tangga yang dikerjainnya, apa lagi?” jawabnya.

“Terus keadaan rumah lu gimana?” tanyaku lagi.

“Gimana apanya, maksudmu?” tanya Dani balik.

“Ya gimana keadaan rumah lah Dan?” jawabku sedikit dongkol.

“Ya begitulah di rumah, aku malas bantuin kerjaan istri, jadi senyaman dia aja,” jawab Dani.

“Aku tahu Dan, tapi. . .” aku terdiam sejenak.

“Tapi apa?” Dani balik bertanya.

” Gini Dan, aku setiap pagi hari selalu kerepotan mau cari pakaianku.”

” Masa tiap mau pergi aku harus nanya gini, Dek, mana maskerku? Dek, mana celana jens ku? Dek, kaos Barcelonaku di mana? Setiap hari setiap mau pergi aku kelimpungan mencari pakaianku Dan,” jelasku panjang lebar.

“Terus apa kamu tahu?” lanjutku.

Dani menggeleng kepalanya dengan ekspresi yang ingin tahu sambil berkata, “Apa?”




“Jawaban dari semua pertanyaanku itu sama saja Dan. Masker Abang di keranjang kecil, celana Abang di keranjang biru, kaos Barcelona Abang di keranjang hijau, dan lain-lain,” jawabku dengan menirukan nada ucapan istriku.

“Terus apa? Kan semua yang kamu cari ketemu?” Sambung Dani.

“Iya, tapi masa iya istriku ga punya waktu untuk sekedar lipat baju kering? Ngapain aja dia di rumah?” Lanjutku.

“Ya menjaga dan merawat anak-anakmu Nal,” Jawab Dani sekenanya.

“Ga sampai segitunya juga kali Dan. Lemari sampai kosong karena isinya sudah berpindah ke keranjang semua gara-gara dia malas lipat baju. Aku merasa bosan tiap hari harus seperti ini,” jawabku terus membenarkan diriku.

“Apa selama duabelas tahun kalian berumah tangga istrimu selalu seperti ini?” tanya Dani lagi.

“Ngga sih, ini baru terjadi beberapa bulan terakhir sejak anak ketiga ku lahir,” jawabku lirih.

Ternyata pertanyaan Dani ini mampu mengusikku dan membuat termenung, berpikir apa yang terjadi pada istriku, apa akhir-akhir ini aku mengabaikan dia? semenjak dia melahirkan anak ketiga kami. Entahlah.

Dani pun hanya diam sambil mengangguk saja, mungkin dia pun bingung harus ngasih solusi seperti apa.

“Sabar kawan,” ucapnya.

“Kita ini imam dalam keluarga kita, jangan sampai masalah seperti ini membuat. . .” ucapan Dani terputus karena teman kerja yang lain berteriak.

“Bos datang! Bos datang!” Serunya kepada kami.

Aku dan Dani pun langsung bubar. Maklum Bos Kami orangnya cerewet dan galak. Dia tidak suka kalau ada karyawan nya duduk santai sambil ngobrol tanpa ada yang di kerjakan. Bisa kena marah kalau bos melihatnya.


Aku pun melanjutkan pekerjaanku menimbang paku pesanan pelanggan yang baru sepuluh kilo di timbang, padahal pesanan orang tigapuluh kilogram paku berbagai ukuran. Dalam hati kecilku berkata, “Aku bosan dengan tingkah istriku. Aku merasa aku sudah berusaha mencukupi semua keperluan rumah tangga kami, tapi kenapa akhir-akhir ini istriku seakan jadi pemalas banget untuk sekedar melipat baju.”

Apa yang harus aku lakukan? Apa kau harus cari istri baru?

Tiba-tiba muncul ide itu yang aku sendiri tidak pernah terpikir selama hampir duabelas tahun menjalani pernikahan.


Kira-kira jam lima sore aku sudah pulang ke rumah.

“Assalamualaikum,” ucapku saat memasuki rumah.

“Wa’alaikum salam,” jawab istri dan anak-anakku.

“Ye. . . Ayah sudah pulang!” Sorak sulungku.

“Lihat!! Ayah bawa apa?” kataku sambil menenteng kresek putih.

“Asyik, ayah beliin pentol buat adek,” kata putri keduaku kegirangan.

“Iya ayah beliin pentol, makannya bareng kakak ya! Jangan berebut!” ucapku.

“Baik ayah.” jawab mereka.

Kemudian aku melihat ke arah istriku yang dari tadi hanya tersenyum melihat tingkah laku anak-anak sambil memangku si bungsu. Sekilas terlintas istriku belakangan ini berbeda dari biasanya, terkadang seperti orang yang lagi menahan sakit, tapi dia tidak pernah mengeluh padaku. Mungkin dia lagi cape aja mengurus anak-anak. Pikirku.

Aku masuk ke dalam mengambil handuk dan langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ku buka kran shower dan air mulai mengguyur tubuh, menghilangkan kepenatan setelah seharian bekerja di luar dengan penuh peluh keringat.  Tapi aku bahagia menjalaninya sebagai bentuk ibadahku kepada Allah, dengan mencari nafkah halal untuk keluarga kecilku.

Alhamdulillah.


Setelah shalat isya anak-anak pun sudah pada tidur. Aku masuk ke kamar, dan aku melihat istriku lagi rebahan menyusui si kecil sambil melihat HP-nya. Aku pun mendekat perlahan agar tidak membangunkan si kecil yang sudah mulai tertidur.

“Dek,” ucapku perlahan.

“Hemmm apa bang?” jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari HP-nya.

“Dek, coba lah beberes sedikit, itu pakaian yang habis di cuci ga di lipat-lipat, sampai penuh lima keranjang dek,” ucapku hati-hati dan perlahan agar dia tidak marah atau tersinggung.

“Ehm iya. . .” jawabnya singkat sambil melihat kearah tumpukan keranjang pakaian.

Aku pun keluar kamar untuk menonton televisi. Sambil sesekali memainkan gawai untuk sekedar berselancar di dunia maya atau memainkan game untuk menghilangkan kepenatan setelah seharian bekerja. Tanpaku sadari ternyata sudah pukul sebelas malam. Aku pun bergegas ke kamar, biasanya kalau sudah jam sepuluh malam istriku akan mengingatkan untuk segera istirahat. Tapi ini sudah jam 11 malam dia tidak mengingatkanku juga.

Saat masuk kamar, aku lihat dia belum tidur dan masih sibuk aja dengan HP di tangannya padahal si bungsu sudah tidur. Kulihat lagi keranjang pakaian yg masih menumpuk dan belum dibereskan sedikit pun. Membuat aku sedikit kesal. Ku dekati dia perlahan.

“Adek kenapa belum tidur?” tanyaku sambil duduk perlahan di sampingnya, dan ku pegang perlahan tangannya kemudian mengambil HP miliknya itu dan menaruhnya di atas meja.

Dia diam saat HP-nya aku ambil, tapi aku merasa ada yang beda dengan suhu tubuhnya, terasa hangat. Mungkin perasaanku saja.

“Belum ngantuk aja bang,” jawabnya membuyarkan lamunanku.

“Mending beresin pakaian kalau belum ngantuk dek,” ucapku lagi.

“Aku malas bang,” jawabnya sekenanya. Dan aku tidak tahu kenapa hal itu membuatku merasa marah padanya.

“Mau adek itu apa sih? Cuma beresin pakaian dan lipat-lipat baju aja malas.” Dengan ucapan agak sedikit menekan.

Bukannya menjawab pertanyaan ku dia malah berbalik memunggungiku.

“Dek, kalau adek tidak mau membereskan pakaian kering, abang akan cari istri lagi!!” Kata-kata itu keluar spontan dari mulutku begitu saja. Istriku langsung menatapku dalam, tanpa berkata apa-apa. Ku lihat air matanya keluar.

Seketika. . .

Hatiku terasa hancur. Jantungku seakan berhenti berdetak. Melihat dia menangis adalah salah satu kelemahanku. Aku tidak serius dengan ucapan ku, aku hanya ingin sedikit menakut-nakuti nya saja. Kulihat dia bangun perlahan seperti sangat kepayahan, kuraih tangannya namun dia menepisnya lembut. Dia menuju tumpukan keranjang dan mulai membereskannya.

“Ah biarlah,” gumam hatiku. Besok juga saat ku jelaskan kalau aku cuma bercanda semua akan kembali baik-baik saja, pikirku. Aku memilih merebahkan diri di ranjang kami dan aku pun terlelap.


Sekitar pukul tiga pagi aku terbangun, dan ku lihat ternyata istriku tidak ada di sampingku. Aku pun bangun perlahan agar tidak membangunkan Vania si bungsu. Perlahan aku keluar kamar dan mencaridia, tidak ada di kamar anak-anak, di dapur, di kamar mandi atau di ruang televisi.

Pasti dia ada di ruangan shalat, pikirku. Karena hanya ruangan itu yang belum aku periksa. Aku segera kesana dan membuka pintunya perlahan-lahan.
Aku lihat istriku tengah tertidur dengan posisi bersandar di dinding dengan balutan mukena di tubuhnya sambil memeluk Al-Qur’an. Ku perhatikan sudut kedua matanya masih basah. Hatiku semakin ga karuan.

“Dek, tidak mau kah kamu menjadikan bahuku untuk bersandar lagi?” gumam hatiku perih.

Hati ini menjerit.

Ya Allah, ampuni hamba yang telah menyakiti hati istri hamba ya Allah. Hamba tidak ada niat sedikit pun untuk menyakitinya.

Tapi.

Kenapa istriku tidak membela diri atau menjelaskan apa pun padaku tentang gunungan cucian kering itu?
Kenapa dia cuma diam?

Hatiku kembali bertanya-tanya.

“Apa ada yang salah denganku?” gumamku.

Atau jangan-jangan istriku. . .

Pengarang cerita : Mulhimah Muhamad Irfan
Editor : Ilham Firyanto
Sumber : New KBM (Komunitas Bisa Menulis)
Ilustrasi Cover : Kahfi

Cerita ini sudah mendaptkan persetujuan langsung dari sang pengarang untuk di publikasikan kembali.

Dim
Dim
2020-09-20
Dim

Mantap


Rendi
Rendi
2020-09-17
Rendi

Good


Good
Good
2020-11-04
Good

good


Fadil
Fadil
2020-11-10
Fadil

Mungkin istrinya minta cerai gan:(


Name
Comment

Share
Shohibul Kahfi

Shohibul Kahfi

Penulis pemula dengan imajinasi seadanya.

Kembali ke atas