POV 1, Sudut Pandang Orang Pertama

Langsung aja ya Soib bongkar semua tentang POV 1 yang sebelumnya pernah di bahas secara singkat.

Firts Point of View (POV 1)

Kalau di Indonesia biasanya di sebut dengan pandangan orang pertama atau sudut pandang pelaku urama.
maksudnya, penulis memposisikan dirinya sebagai orang pertama yang bercerita. Pelaku utama adalah penulis menjadi tokoh utama dalam cerita tersebut. Biasanya, sudut pandang ini menggunakan kata “Aku” sebagai pencerita.

Artinya, penulis memposisikan dirinya sebagai tokoh utama dalam sudut pandang “Aku”.

Sudut pandang pertama ini sangat mudah dan asyik untuk digunakan penulis pemula dalam membuat suatu cerita, karena seolah-olah menuliskan pengalaman pribadi dalam cerita. Asal gak terlihat seperti orang yang lagi curhat di wa. 😀

Jika dalam sebuah cerita si penulis memposisikan dirinya sebagai “Aku”, artinya penulis tidak akan bisa mengetahui bagaimana cerita kehidupan dari tokoh lain yang tidak berhubungan langsung dengan tokoh utama atau pun mengetahui isi hati dari tokoh lainnya.

Ciri utama sudut pandang orang kesatu atau POV 1 :

1. Narasi selalu menggunakan kata “Aku”.
2. Kisah selalu berpusat kepada perasaan dan kejadian di sekitar tokoh utama.

Kebocoran POV 1

Contoh yang salah :
Aku melihat Dien sedang termenung memikirkan kekasihnya yang tak kunjung jua datang.

Perlu di perhatikan, dalam menggunakan penulisan POV 1 itu sama halnya tokoh tidak bisa membaca pikiran tokoh lainnya.

Saat aku terlelap, suamiku mengecup keningku diam-diam.

Ini si tokoh “Aku” sebenarnya tidur apa tidak? 😀

Aku menunggunya di kafe. Dia masih berlari terengah naik ke lantai atas.

Loh? Kok si “Aku” bisa tau kalau dia masih berlari terengah? Dukun ya?

AKU AKU AKU

Jangan terlalu sering menggunakan kata “Aku” dalam satu paragraf. Gunakan sewajarnya dan jangan lebih dari tiga kata “Aku”.

Jika ada, silahkan revisi.
a. Hapus AKU-nya
b. Ubah kalimat AKU-nya dengan kalat yang selaras.

Contoh :

Masih tak ada jawaban atas panggilanku. Baru saja aku hendak bangkit mencari ibu di dapur, suara derit pintu rumaku yang karatan menyentakku. Ibu masuk dari pintu depan. Membawakanku setengah piring nasi yang mengepulkan asap tipis.

Teman Soib juga baca Memulai Menulis Novel

AKU, KU, AKU (TERLALU BANYAK KU AKU)

Revisi,

Panggilanku tak terjawab. Baru saja hendak bangkit mencari ibu, di dapur, suara derit pintu karatan menyentak. Ibu masuk dari pintu depan dan membawa setengah piring nasi yang mengepulkan asap tipis.

Coba bandingkan sebelum dan setelah di revisi.
Sering-sering latihan aja ya. 😀

Contoh cerita yang menggunakan POV 1 :

Aku berjalan menyusuri bukit yang dipenuhi padang ilalang. Perlahan-lahan kulangkahkan kaki di jalan setapak yang kiri dan kanannya dikelilingi ilalang yang sedang berbunga. Sesampainya di atas bukit, aku mendapati seseorang sedang duduk di atas batang kayu yang telah mati. Cowok berkaos biru itu langsung menyadari kedatanganku. Ia melempar senyum manis yang membuatku jadi salah tingkah. Ia bahkan tak henti menatapku dengan senyuman yang tak mampu aku artikan. Andai bisa kubaca hatinya, mungkin aku akan tahu bagaimana isi hatinya saat ini.

Kalimat yang harus dihindari dalam penulisan menggunakan teknik PoV 1 yaitu :

Aku berjalan menyusuri bukit yang dipenuhi padang ilalang. Perlahan-lahan kulangkahkan kaki di jalan setapak yang kiri dan kanannya dikelilingi ilalang yang sedang berbunga. Sesampainya di atas bukit, aku mendapati seseorang sedang duduk di atas batang kayu yang telah mati. Cowok berkaos biru itu langsung menyadari kedatanganku. Ia melempar senyum manis yang membuatku jadi salah tingkah. Ia tak henti menatapku sambil berkata dalam hati, “Kamu cantik sekali, setiap melihatmu … aku merasa bahagia.”

Kalimat yang Soib tebalkan adalah kalimat yang harus di hindari ketika menggunakan POV 1 atau Sudut Pandang Orang Pertama Pelaku Utama.

Seperti yang udah Soib terangkan di atas, tidak seharusnya si “Aku” mengetahui isi hati tokoh lain atau adegan apa pun yang tidak tertangkap oleh “Aku” sebagai tokoh utama.

Share
Shohibul Kahfi

Shohibul Kahfi

Penulis pemula dengan imajinasi seadanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke atas