POV 3 Sudut Pandang Orang Ketiga

Sebelumnya Soib sudah membahas tentang POV 1 dan POV 2, kali ini Soib akan mengupas tuntas apa itu POV 3 sudut pandang orang ketiga dalam suatu cerita. Oke, langsung aja ya pembahasannya.

POV 3 atau Sudut Pandang Orang Ketiga

Point of View 3 (POV 3) adalah penceritaan dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga. Umumnya menggunakan kata ‘dia’ atau nama tokoh dalam cerita. Dalam hal ini, penulis adalah dalang dalam suatu pertunjukan.
Nah, keuntungannya kita bisa bercerita tentang semua tokoh dalam cerita. Seolah-olah penulis berada di langit menyaksikan semua kejadian yang mengikuti si tokoh.

Jenis POV 3

POV 3 Limited

Pembaca diajak mengikuti perjalanan satu karakter tokoh saja.

POV 3 Multiple

Penulis akan menceritakan dua karakter berbeda atau lebih menggunakan sudut pandang masing-masing karakter secara terpisah.

POV 3 Omniscient

Penulis dapat bercerita dari sudut pandang dan isi pikiran beberapa karakter sekaligus, tanpa berganti bab atau alur. Dikenal juga dengan PoV Serba tahu. Lebih sering terdapat pada sastra klasik.
Selanjutnya, dengan PoV 3 ini penulis bisa bercerita dengan beberapa sudut pandang.

Sudut Pandang Objektif

Sudut pandang objektif ini berarti narator berada di luar karakter dan penulis enggak tahu isi hati/isi pikiran si tokoh. Penulis adalah reporter atau pelapor. Biasanya, sudut pandang objektif digunakan saat ingin menciptakan aura misterius dari si tokoh–kita cuma bisa melihat dari luar. Kalau sering-sering menggunakan PoV jenis ini, biasanya pembaca cepat bosan karena mereka menginginkan kedekatan dengan si tokoh.

Gino terbangun pukul dua pagi. Dia berdiri dan menghampiri lemari obat, lalu mengambil beberapa butir pil dan menelannya tanpa air. Setelah itu, dia berpakaian dan mengambil pistol dari lemarinya. Pistol itu dia sembunyikan di balik saku jasnya. Dengan gegas, dia menuruni tangga menuju pintu depan, menyalakan mesin mobil, lalu melajukannya ke arah toko perhiasan.

Dari deskripsi di atas, kita sama sekali tidak tahu apa yang akan dilakukan Gino. Namun, kita bisa mengira-ngira dari apa yang kronologinya. Mungkin dia berniat merampok toko perhiasan.

Menurut saya, sudut pandang jenis ini tidak akan cocok jika dipakai menulis romance, karena bukankah apa yang dicari pembaca romance adalah perasaan dan kedekatan dengan si tokoh?

Sudut Pandang Objektif Modifikasi

Salah satu cara untuk meraih kedekatan dengan pembaca adalah dengan menggunakan sudut pandang objektif yang dimodifikasi. Si narator tidak menyebut kalau dirinya tahu apa yang dipikirkan si tokoh, tetapi mengira-ngira atau menebak-nebak apa yang ada dalam benaknya.

Aura terbangun dengan kelelahan. Mungkin dia bermimpi buruk, atau mungkin juga dia terkena flu. Semalam, saat dia berjalan-jalan dengan Martin, angin berembus sangat kencang dan dia tidak membawa jaket.

Sudut Pandang Serba Tahu

Saat narator mengungkapkan apa yang terjadi dalam kepala si tokoh, cerita itu ditulis dengan sudut pandang omniscient atau serbatahu. Sudut pandang ini sangat populer pada novel-novel di zaman Victoria. Perhatian utama novelis Victorian adalah
masyarakat. Cara terbaik untuk memahami masyarakat adalah dengan memiliki akses terhadap pikiran dan motif setiap tokoh.

Henry tiba pukul dua pagi dengan tubuh menggigil dan lemah (keadaan tubuhnya adalah sudut pandang Henry). Catherine menyapanya di pintu, berpikir kalau suaminya tampak seperti tikus yang habis tenggelam di got (pemikiran Catherine).

Baca juga Rindu, Kamu, dan Sepi

Sudut Pandang Serba Tahu Terbatas

Sudut pandang ini adalah POV paling mudah untuk penulis pemula. Sederhananya seperti ini: pengarang memiliki hak untuk memasuki kepala hanya tokoh-tokoh tertentu saja. Tokoh-tokoh terpilih ini, biasanya protagonis dan beberapa tokoh penting lainnya, disebut “viewpoint character”.

Contoh: novel The Good Daughter karya Karin Slaughter, atau Big Little Lies karya Liane Moriarty.

Nah, bolehkah kita mencampur beberapa sudut pandang dalam satu novel?

Boleh, kalau ada tujuannya. Kalau cuma buat keren-kerenan tapi malah membuat pembaca bingung, sebaiknya tidak. Human Acts karya Han Kang menggunakan tiga sudut pandang sekaligus (PoV 1, 2, dan 3), dan bisa tetap keren. Syaratnya, gunakan satu sudut pandang dalam satu bab atau satu bagian, jangan dicampur-campur agar tidak membingungkan.

Kemudian, jika kita sudah memilih menggunakan PoV 1, jangan sampai ada sudut pandang bocor (tiba-tiba menceritakan tokoh yang bukan narator)

Semoga penjelasan soal sudut pandang ini menyalakan ide di kepalamu, ya.

Sumber 4 Macam Sudut Pandang Orang Ketiga (PoV 3)

Name
Comment

Share
Shohibul Kahfi

Shohibul Kahfi

Penulis pemula dengan imajinasi seadanya.

Kembali ke atas