Unsur 5W 1H Dalam Menulis Cerita

Dalam penulisan cerita, setiap orang pasti memiliki ciri khas dan teknik tertentu, salah satunya dengan menggunakan unsur 5W 1H dalam menulis cerita maupun berita, dan ini juga saya terapkan dibeberapa cerita yang sudah saya tulis. Artikel kali ini dibuat guna menjawab beberapa pertanyaan teman-teman via DM tentang kiat menulis. Ketika hendak membuat tulisan, saya akan mempersiapkan unsur what, when, where, who, dan why, serta how. Sebelumnya simak pengertian di bawh ini tentang pengertian 5W 1H

Pengertian 5W 1H

5W 1H adalah sebuah istilah yang umum dalam dunia jurnalistik, tidak hanya dalam dunia jurnalistik. Dalam setiap penulisan informasi entah itu dalam teks berita atau apapun.

Unsur 5W 1H yang terdiri dari What, where, why, when, who dan how, digunakan untuk menjamin bahwa sebuah informasi dapat tersampaikan dengan baik.

5W 1H atau disebut juga dengan istilah “adiksimba” adalah unsur yang digunakan untuk memahami inti sebuah berita atau juga untuk menentukan suatu pokok berita. Suatu berita dapat dikatakan baik jika dapat menjawab unsur-unsur yang terdapat dalam 5W 1H

Yang saya maksud 5W 1H (who, what, where, when, why, how) dalam mengembangkan ide cerita, bukan menjejalkan rumus kuno Rudyard Kipling ini ke dalam tubuh cerita fiksi yang saya buat, baik itu cerpen ataupun novel, sebagaimana menulis berita langsung. Akan tetapi, saya mengembangkan 5W 1H semata-mata untuk mengembangkan ide cerita.




Berikut ini adalah unsur 5W 1H dalam menulis cerita.

WHAT

  • Apa yang akan dituliskan?
  • Temanya apa?
  • Apa judulnya?
  • Apa tujuan yang ingin disampaikan dalam tulisan?
  • Bentuk tulisannya apa? Cerpen, cerbung, puisi, esai, senandika, atau jenis tulisan lainnya.

Tema ini sangat penting dalam menulis karena semua info akan terkait ke topik pembahasan. Bahasa gampangnya, tema adalah jiwa sebuah tulisan.

WHEN

  • Kapan cerita itu terjadi.
  • Waktu berpengaruh pada alur cerita apakah alur maju, alur mundur, atau alur campuran.
  • Isu-isu aktual maupun peristiwa yang terjadi sesuai kapan cerita terjadi agar ditelaah supaya tidak cacat logika.

WHERE

  • Di mana setting cerita dibuat.
  • Tempat dibuatnya cerita memengaruhi banyak hal seperti budaya setempat, nama yang digunakan untuk tokoh, kearifan lokal, dll.
  • Penguasaan lokasi cerita akan membuat cerita mengalir dan menghindari cacat logika.

WHO

  • Siapa tokoh utama dalam cerita?
  • Penentuan tokoh akan berpengaruh pada karakter. Jangan sampai tokoh adalah anak SD, tapi cara bicaranya ‘tua’.
  • Kepada siapa tulisan ditujukan?
  • Siapa yang akan bercerita. Artinya who juga termasuk dalam penentuan PoV. Ketika ‘aku’ yang bercerita maka PoV1. Bila ‘kamu’ sebagai sudut pandang maka PoV2. Kala cerita dikisahkan oleh orang ketiga atau sutradara maka PoV3.




Saran :

Sebaiknya saat menulis cerpen, cukup satu sudut pandang yang digunakan agar tidak bocor PoV. Misalnya: Jika PoV 3 maka dalam narasi tidak boleh menulis Ah, rasa ini terlalu dalam … yang menjadi ciri PoV-1.

Ketika PoV 1 yang dipakai janganlah dalam narasi ditulis, Di dalam hati, ia menggerutu karena ucapanku. Si ‘aku’ tidak tahu apa isi hati dan pikiran orang lain. (InsyaAllah materi PoV diunggah bila failnya sudah ditemukan).

WHY

  • Mengapa cerita ini pantas ditulis? Karena cerita ini menarik, ada konflik yang membuat pembaca tegang, atau mungkin cerita ini banyak pesan moral dan ilmu yang dibagikan.
  • Mengapa cerita tersebut bisa terjadi? Karena kisah ini benar-benar terjadi. Artinya, cerita ini fiksi atau bersumber pada kisah nyata.

Ada sebuah kisah yang menarik, tetapi di dalamnya banyak kontroversi. Jika kita tidak sanggup menjawab atau mendebat komentar yang akan diberikan oleh sahabat pembaca, lebih baik cerita tersebut jangan ditulis.

Pernah seorang sahabat menuliskan kisah pribadinya tentang sindrom pasca melahirkan. Niatnya bagus untuk berbagi pengalaman. Namun, tak disangka gangguan ini ada yang melabeli dia kurang iman dan opini miring lainnya. Sahabat tersebut merasa dikerubuti pembaca dengan banyak pertanyaan. Tak kuat menanggapi, tulisan dihapus dari grup penulisan. Sayang, ‘kan?

HOW

  • Bagaimana cerita akan dituliskan telling atau showing?
  • Bagaimana kesan yang ingin diberikan kepada pembaca? Banyak bawangnya atau sebaliknya.
  • Bagaimana tulisan akan dibuat? Gaya tulisan dengan diksi cantik meliuk, gaya prosa ungu, tulisan lugas, atau gaya inversi.
  • Bagaimana opening, agar pembaca tidak meninggalkan tulisan setelah membaca alenia pertama.
  • Bagaimana ending akan digunakan sebagai penutup, twist atau epic.

Ternyata nulis itu gak mudah, ya?

Menulis itu terapi hati. Ingat kata pepatah, alah bisa karena biasa. Mari belajar bersama dan jangan takut mencoba. Satu lagi, untuk membuat 5W 1H, dibutuhkan riset. Bukan berarti, menulis fiksi boleh seenaknya dan cacat logika. Ingat Sobat, tulisan bisa digunakan untuk menebar kebaikan dan membagikan ilmu pengetahuan. Jika beruntung, bisa menjadi ilmu yang bermanfaat dan ladang amal. Jangan sampai, tulisan menyesatkan dan jadi sumber dosa nantinya.

Disclaimer
Sumber : Komunitas Bisa Menulis

Dian
Dian
2020-11-10
Dian

Gan bedah 1 cerpen dong, liat dari sudut 5W dan 1 H nya. tks

Rizky Yoga Oktora
Rizky Yoga Oktora
2020-11-10
Rizky Yoga Oktora

Nice info, perlu banyak latihan nulis lagi kayanya nih saya

Name
Comment
Share
  • 1
    Share
Shohibul Kahfi

Shohibul Kahfi

Penulis pemula dengan imajinasi seadanya.

Kembali ke atas